Pemimpin Iran Puji Serangan ke AS Meski Korban Minim

CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 16:56 WIB
Pemimpin Iran Puji Serangan ke AS Meski Korban Minim Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memuji serangan ke markas AS di Irak. (HO / Iranian Supreme Leader's Website / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memuji keputusan angkatan bersenjatanya yang menyerang dua markas pasukan Amerika Serikat di Irak dengan roket hingga melukai 11 prajurit. Menurut dia, hal itu adalah balasan karena AS bertindak sebagai pengecut yakni menewaskan seorang perwira tinggi militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani, melalui serangan udara.

"Itu adalah coreng terhadap citra Amerika Serikat sebagai negara adidaya," kata Khamenei dalam khotbah Salat Jumat di Teheran, seperti dilansir Associated Press, Jumat (17/1).


Khamenei dilaporkan sangat kehilangan Soleimani. Hubungan keduanya memang sangat dekat.


Khamenei bahkan dilaporkan menjadi penghulu ketika Soleimani menikahkan anaknya. Korps prajurit yang dipimpin Soleimani, Pasukan Quds, juga hanya bergerak berdasarkan perintah Khamenei.

Ketika jasad Soleimani dipulangkan ke Iran, Khamenei memimpin salat jenazah. Dia bahkan sampai menangis sesenggukan ketika mendoakan sahabatnya itu.

Ketika kabar Soleimani meninggal akibat serangan AS, Khamenei berjanji akan membalas. Akan tetapi, serangan tersebut juga menimbulkan petaka karena pasukan Iran malah salah sasaran mengira pesawat penumpang maskapai Ukraine International Airlines sebagai jet tempur.

[Gambas:Video CNN]

Alhasil, mereka menembak pesawat yang mengangkut penumpang dan awak sebanyak 176 orang dengan dua peluru kendali pada 8 Januari lalu. Dilaporkan sempat ada upaya untuk menutupi penyebab kejadian tersebut, tetapi tiga hari kemudian militer Iran baru mengakui mereka salah sasaran.

Setelah serangan terhadap Soleimani, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan mereka mundur dari seluruh kesepakatan nuklir 2015 (Joint Comprehensive Plan Of Action).

Khamenei menyatakan tidak pernah meyakini perjanjian nuklir tersebut karena beralasan AS tidak pernah bisa dipercaya. Namun, dia membolehkan Rouhani yang lebih moderat meneken perjanjian tersebut dengan Presiden AS saat itu, Barack Obama.


Tiga tahun kemudian Presiden AS, Donald Trump, memutuskan mundur dari perjanjian itu. Alasannya adalah Iran dianggap melanjutkan program pengembangan rudal dan ikut terlibat dalam sejumlah konflik di Timur Tengah. Sejak itu Khamenei menyatakan tidak akan mau lagi membuat perjanjian dengan AS. (ayp/ayp)