KILAS INTERNASIONAL

Iran Tangkap Perekam Pesawat Jatuh hingga PM Rusia Mundur

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 06:53 WIB
Iran Tangkap Perekam Pesawat Jatuh hingga PM Rusia Mundur Pesawat Ukraina jatuh ditembak dua rudal Iran. (Foto: Rouhollah VAHDATI / ISNA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah berita mewarnai jagat internasional pada Kamis (16/1). Mulai dari Iran yang menangkap perekam video pesawat Boeing 737 milik Ukraina yang jatuh ditembak rudal hingga Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev yang mundur usai Presiden Vladimir Putin mengubah konstitusi.

Iran Tangkap Perekam Video Pesawat Ukraina Ditembak Rudal

Iran mengumumkan telah menahan orang yang merekam detik-detik pesawat Ukraina ditembak rudal dan jatuh di pinggiran ibu kota Teheran.

Laporan media lokal Iran menyebut orang itu ditahan oleh militer dan diperkirakan akan didakwa terkait keamanan nasional.


Penangkapan ini berlangsung setelah dua rekaman kecelakaan pesawat Ukraine International Airlines itu tersebar di media. Video terbaru menunjukkan bahwa pesawat berpenumpang 176 orang itu terbakar sebelum jatuh.

Dalam rekaman gambar itu terlihat pesawat sempat berupaya kembali ke bandara meski akhirnya meledak di angkasa dan jatuh.

Pesawat tersebut dijadwalkan terbang menuju Kiev dan tertembak rudal militer Iran tak lama setelah lepas landas dari bandara Teheran.

Tentara AS Kembali Lanjutkan Operasi Militer di Irak

Amerika Serikat dilaporkan akan memulai kembali operasi militer di Irak setelah sempat dihentikan menyusul kematian jenderal Iran Qasem Soleimani.

Menurut laporan New York Times, Rabu (15/1) dua petinggi militer AS mengatakan bahwa Pentagon ingin melanjutkan operasi untuk memerangi ISIS.

Ribuan tentara AS dikerahkan ke Irak untuk mendukung pasukan lokal mencegah ISIS kembali bangkit. Mereka menjadi bagian dari koalisi internasional yang diundang Irak pada 2014 silam untuk melawan ISIS.

Washington menghentikan operasi itu pada 5 Januari lalu atau dua hari setelah serangan drone AS menewaskan perwira tinggi militer Mayor Jenderal Qasem Soleimani di sekitar bandara Baghdad.

[Gambas:Video CNN]

Ulama Syiah Imbau Warga Irak Demo Desak AS Tarik Pasukan

Ulama karismatik Syiah di Irak, Muqtada Al-Sadr mengimbau jutaan penduduk setempat berunjuk rasa mendesak Amerika Serikat menarik seluruh pasukannya dari negara itu. Anjuran itu senada dengan permintaan parlemen Irak supaya AS segara angkat kaki usai serangan udara yang menewaskan jenderal Iran, Qasem Soleimani pada 3 Januari lalu.

"Kedaulatan langit dan tanah Irak dilanggar setiap hari oleh pasukan pendudukan. Jutaan warga harus bersatu untuk mengecam keberadaan dan pelanggaran AS melalui demonstrasi damai," cuit Al-Sadr melalui akun Twitter, seperti dilansir AFP, Rabu (15/1).

Parlemen Irak melalui pemungutan suara pada 5 Januari lalu sepakat untuk mengusir 5,200 pasukan AS yang ditempatkan di sana. Pasukan itu dikirim sejak 2014 untuk membantu memerangi kelompok Negara Islam (ISIS).

Pangkalan AS di Irak menjadi target serangan roket selama beberapa bulan belakangan. Hal itu terjadi beriringan dengan unjuk rasa besar-besaran menentang korupsi yang terjadi di Negeri 1001 Malam.

Pemerintah Rusia Mundur Usai Putih Ubah Konstitusi

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengumumkan bahwa pemerintah mengundurkan diri setelah Presiden Vladimir Putin mengusulkan reformasi konstitusi besar-besaran. 

Reformasi itu kabarnya dapat memperpanjang cengkeraman kekuasaan Putin setelah dua periode jabatan.

Melalui pernyataan, Medvedev mengindikasikan bahwa seluruh anggota pemerintah mundur untuk memuluskan jalan Putin mereformasi konstitusi.

"Presiden Putin menguraikan sejumlah perubahan mendasar pada konstitusi, perubahan signifikan tidak hanya pada sejumlah pasal tapi juga pada keseimbangan kekuasaan dalam pemerintah secara keseluruhan," kata Medvedev dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Rusia, Rabu (15/1).

"Dalam konteks ini, sudah jelas bahwa kami sebagai pemerintah harus memberikan presiden negara kita kesempatan untuk membuat semua keputusan yang diperlukan untuk ini. Dan dalam kondisi ini, saya percaya bahwa ini jalan yang benar sesuai dengan pasal 117 dalam konstitusi," ucapnya menambahkan. (evn/evn)