Rusia Sebut Iran Salah Tembak karena Gugup dengan Jet F-35 AS

CNN Indonesia | Sabtu, 18/01/2020 20:55 WIB
Mentlu Rusia Sergei Lavrov menduga Iran salah menembak jatuh pesawat komersial Ukraina dengan rudal karena gugup diprovokasi jet tempur F-35 AS. Jet tempur Amerika Serikat F-35. (Dok. U.S. Navy photo courtesy Lockheed Martin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menduga Iran melakukan kesalahan fatal menembak jatuh pesawat komersial Ukraina dengan rudal karena gugup setelah diprovokasi oleh jet tempur F-35 milik Amerika Serikat.

Insiden itu terjadi ketika Iran tengah bersiaga untuk membalas serangan drone Amerika Serikat yang menewaskan jenderal mereka, Qasem Soleimani di Irak.

Pasukan Garda Revolusi Iran tak sengaja menembak pesawat itu dua kali dengan rudal hingga menewaskan seluruh 176 penumpang dan awak.

"Ada informasi bahwa Iran sedang menunggu serangan lain dari AS, mereka tidak tahu dalam bentuk apa, tetapi ada setidaknya enam jet tempur F-35 di wilayah udara tepat di perbatasan Iran," kata Lavrov dikutip dari AFP, Sabtu (18/1).


Teheran sendiri mengakui kecelakaan itu terjadi karena human error. Lavrov pun memaklumi posisi Iran saat itu.

Dia menyatakan tidak ingin memihak pada siapapun, namun mengecam tindakan Washington membunuh perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani.
[Gambas:Video CNN]
Ia menyebut operasi AS membunuh Soleimani merusak dan bertentangan dengan semua norma hukum internasional yang pernah ada.

Meski demikian Lavrov mendesak Iran dan AS sama-sama menurunkan tensi ketegangan.

"Peningkatan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat tidak akan membantu menyelesaikan krisis di kawasan Timur Tengah," katanya.

Hubungan AS-Iran terus memanas setelah Washington meluncurkan serangan drone yang menewaskan jenderal Qasem Soleimani, di Irak pada 3 Januari lalu.

Serangan itu dikhawatirkan memicu perang terbuka antara AS dan Iran. Teheran bersumpah akan membalas kematian Soleimani dengan beberapa kali meluncurkan belasan roket dan rudal ke sejumlah basis militer dan kedutaan AS di Irak.

Namun, hujan rudal dan roket itu meleset tanpa menyebabkan kerusakan dan korban yang berarti dari pihak AS. Terakhir kekhawatiran terjadi perang terbuka antara AS-Iran sedikit mereda setelah Presiden Donald Trump menyatakan mundur dari konflik. (khr/dea)