Trump Anggap Remeh Tentara AS Gegar Otak karena Rudal Iran

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 16:37 WIB
Trump Anggap Remeh Tentara AS Gegar Otak karena Rudal Iran Presiden AS Donald Trump. (NICHOLAS KAMM / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump menyangkal tentara Amerika Serikat mengalami gejala gegar otak akibat serangan rudal Iran.

Trump mengaku baru mengetahui kabar soal kondisi tentara AS beberapa setelah kejadian. Dia menganggap cedera yang dialami pasukan AS tersebut tidak terlalu serius.

"Tidak, saya mendengar bahwa mereka sakit kepala, dan beberapa hal lain, tetapi saya akan mengatakan, dan saya dapat melaporkan, itu tidak terlalu serius," kata Trump dengan acuh tak acuh dalam konferensi pers di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Rabu (22/1) seperti dikutip dari CNN.

Trump mengatakan apa yang dialami oleh tentara AS tersebut tidak seberapa parah jika dibandingkan dengan korban rudal Iran lainnya.


"Saya telah melihat apa yang telah dilakukan Iran dengan mengebom pasukan kami di pinggir jalan. Saya telah melihat orang-orang tanpa kaki dan tanpa senjata. Saya telah melihat orang-orang yang terluka parah di daerah itu, perang itu. Tidak, saya tidak menganggap itu sebagai cedera parah, tidak. "

Sejumlah tentara AS menjadi korban serangan rudal Iran ke dua pangkalan militer mereka di Irak Ain al-Asad dan pangkalan di Erbil pada 8 Januari lalu.

[Gambas:Video CNN]

Serangan ke dua basis militer itu diluncurkan Iran sebagai balasan atas kematian Mayor Jenderal Qasem Soleiman akibat drone AS. Serangan pada 3 Januari itu turut menewaskan salah satu tokoh militer Irak, Abu Mahdi al-Muhandis.

Tak lama setelah serangan, Trump menyatakan semua tentara mereka selamat dalam serangan rudal dan roket tersebut. Pasukan AS selamat dari serangan karena berlindung di dalam bungker.

Namun berapa hari kemudian, skrining medis menunjukkan bahwa beberapa tentara itu menderita gejala gegar otak.

Pekan lalu, 11 tentara diterbangkan ke fasilitas medis AS di Jerman dan Kuwait untuk evaluasi lebih lanjut karena gejala gegar otak.

Jumlah korban kemudian terus bertambah. Pentagon pada Selasa (21/1) mengatakan beberapa pasukan kembali diterbangkan menuju Landstuhl, Jerman untuk pengecekan atas dugaan gegar otak.

Juru Bicara Komando Pusat Militer AS, Kapten Angkatan Laut Bill Urban, mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, sejumlah tentara diidentifikasi berpotensi cedera.

"Mengingat sifat cedera yang sudah dicatat, ada kemungkinan cedera tambahan diidentifikasi di masa depan," kata Urban seperti dikutip dari Associated Press. (dea)