Pemimpin Uni Eropa Tandatangani Kesepakatan Brexit

CNN Indonesia | Jumat, 24/01/2020 19:22 WIB
Pemimpin Uni Eropa Tandatangani Kesepakatan Brexit Kesepakatan Brexit ditandatangani oleh Komisi Uni Eropa. (Foto: Oli SCARFF / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel menandatangani kesepakatan pengunduran diri Inggris dari Uni Eropa (Brexit) pada Jumat (24/1) di Brussel, Belgia.

"Charles Michel dan saya baru saja menandatangani perjanjian tentang Keluarnya Inggris dari Uni Eropa. langkah berikutnya akan melalui tahap ratifikasi oleh Parlemen Eropa," ujar Ursula vond er Leyen dalam cuitannya.

Lewat cuitan terpisah, Michel mengatakan keluarnya Inggris akan berpengaruh pada negara-negara Uni Eropa.


"Segala sesuatunya akan berubah, tetapi persahabatan kita akan tetap ada. Kita akan memulai babak baru sebagai mitra dan sekutu," cuit Michel secara terpisah.

Dilansir AFP, naskah kesepakatan Brexit berikutnya akan diserahkan untuk diratifikasi ke Parlemen Eropa pada Rabu (29/1). Inggris akan resmi terlepas dari Uni Eropa pada Jumat (31/1) tengah malam.

Sehari sebelumnya, diplomat dari negara-negara anggota Uni Eropa melakukan pertemuan di Brussel untuk menyetujui kesepakatan Brexit secara tertulis.

Ratu Elizabeth II memberikan persetujuan secara formal terkait undang-undang penarikan Inggris dari Uni Eropa pada Kamis (23/1). Kini Uni Eropa memasuki tahap penyelesaian formalitas akhir dalam beberapa hari mendatang.

Parlemen Inggris pada Kamis (9/1) akhirnya menyetujui Brexit melalui proses pemungutan suara oleh parlemen. Sebanyak 330 suara menyetujui Brexit dan hanya 231 suara yang menentang.

[Gambas:Video CNN]

Persetujuan parlemen ini menjadi jalan pembuka bagi Inggris untuk menjadi negara pertama yang meninggalkan Uni Eropa.

Referendum Brexit dikeluarkan pada Juni 2016. Setelah melalui proses negosiasi panjang, persetujuan ini sempat menuai perbedaan pendapat selama bertahun-tahun.

Majelis Rendah mendadak riuh setelah anggota parlemen meratifikasi kesepakatan pemisahan Inggris dengan Uni Eropa yang diajukan Perdana Menteri Boris Johnson.

Masa transisi

Keputusan ini memberi waktu transisi bagi Inggris selama 11 bulan sampai akhir tahun 2020. Transisi diberikan untuk memberikan kesinambungan sampai kedua belah pihak menyetujui kemitraan baru, mencakup segala sesuatu mulai dari perdagangan hingga hak dan keamanan penangkapan ikan.

Ketika kesepakatan perceraian pertama kali dirancang, transisi akan berlangsung hampir dua tahun. Namun penundaan Brexit telah mempersingkat transisi menjadi hanya 11 bulan.


Selama masa transisi, Inggris dan negara-negara Uni Eropa lain akan tetap menerapkan aturan bisnis yang sama untuk mencoba negosiasi kesepakatan perdagangan yang lebih luas.

Uni Eropa telah memperingatkan akan mustahil untuk menyepakati perjanjian perdagangan bebas yang komprehensif dalam waktu itu, dan London memiliki opsi untuk memperpanjang transisi satu atau dua tahun.

Tetapi Perdana Menteri Boris Johnson menegaskan tidak akan ada perpanjangan. Hal itu meningkatkan spekulasi bahwa ia harus menerima kesepakatan perdagangan yang kurang ambisius. (AFP/evn)