Wawancara Eksklusif

Malaysia Akui Sulit Bedakan Kapal Nelayan dan Abu Sayyaf

CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 09:36 WIB
Malaysia Akui Sulit Bedakan Kapal Nelayan dan Abu Sayyaf Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu. (CNN Indonesia/Hamka Winovan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Malaysia mengakui bahwa mereka masih harus meningkatkan pengamanan di perairan Sabah yang rawan disusupi kelompok bersenjata. Pengakuan itu terucap setelah sejumlah nelayan Indonesia kembali diculik di perairan Sabah oleh kelompok Abu Sayyaf pada 16 Januari lalu.

Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan kapabilitas Negeri Jiran untuk mengamankan perairan Sabah belum maksimal. Sebab, dia menuturkan aparatnya masih sering sulit mengidentifikasi kapal-kapal yang masuk dan keluar perairan itu.

"Di sini yang perlu kami tingkatkan adalah, kami kadang-kadang sulit mengenali mana kapal nelayan yang ceroboh, mana kumpulan yang masuk untuk melakukan penyanderaan," kata menteri yang senang disapa Mat Sabu itu dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com di Jakarta, Jumat (24/1).

"Kadang-kadang kami tak mengenali di antara mereka itu (kelompok penyandera dan nelayan biasa), maka perlu peralatan yang lebih hebat lagi," ucap dia menambahkan.


Pada Kamis (16/1), lima nelayan Indonesia diculik Abu Sayyaf saat melaut di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah.

Penyanderaan itu berlangsung empat bulan kurang setelah penyanderaan terakhir yang terjadi pada September lalu. Kelima nelayan itu juga diculik tiga hari setelah angkatan bersenjata Filipina membebaskan WNI terakhir yang ditawan Abu Sayyaf.

[Gambas:Video CNN]

Indonesia menyalahkan penyanderaan ini terjadi lantaran koordinasi yang kurang efektif dengan pemerintah Malaysia. Sebab, penyaderaan berulang ini terjadi setelah Indonesia, Malaysia, dan Filipina menyepakati perjanjian trilateral yang berfokus pada kerja sama pengamanan di perairan Sabah, Sulu, dan utara Sulawesi.

Malaysia enggan disalahkan Indonesia terkait hal ini. Angkatan bersenjata Malaysia menyatakan selama ini telah berkoordinasi dengan Indonesia dan Filipina dalam menggelar patroli di perairan Sulu yang sudah berjalan sejak empat tahun lalu.

Mat Sabu juga menyatakan banyak nelayan Malaysia yang dibajak atau diculik di perairan Indonesia.

"Biasa lah kadang-kadang nelayan ini, nelayan-nelayan kami pun banyak juga yang disita di Indonesia. Tapi kami tetap mencari jalan terbaik untuk berunding bagaimana menghadapi masalah ini. Ini yang tadi kami perbincangkan dengan pak Prabowo," kata dia saat ditanya soal responsnya terhadap pernyataan Indonesia tersebut.

Mohamad menuturkan masalah pengamanan di Sabah dan penyanderaan WNI oleh Abu Sayyaf menjadi salah satu topik yang dibicarakan saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada Jumat pekan lalu.

Selain meningkatkan pengamanan di perairan Sabah, Mat Sabu juga menegaskan bahwa masalah penyanderaan ini tidak akan selesai jika wilayah selatan Filipina terutama di Mindanao masih bergejolak.

Sejumlah kelompok militan dan pemberontak Filipina memang berbasis di Mindanao, termasuk Abu Sayyaf. Salah satu kota di Mindanao, Marawi, bahkan sempat digempur konflik bersenjata antara militer Filipina dan Abu Sayyaf serta Maute selama lima bulan pada 2017 lalu.

Sejumlah pihak bahkan menganggap wilayah Mindanao berpotensi menjadi markas baru kelompok teroris ISIS. Sebab, sejumlah kelompok bersenjata di sana mengaku berbaiat terhadap kelompok teroris tersebut.

"Kita juga harus berusha mencari penyelesaian membantu Filipina menyelesaikan masalah di Mindanao. Sebab, selagi pergolakan terjadi di Mindanao, limpahan (efeknya) akan sampai ke Negeri Jiran dan juga Indonesia," kata Mat Sabu. (rds/dea)