Australia Waspada Gelombang Panas, Peringatan Karhutla

CNN Indonesia | Jumat, 31/01/2020 03:48 WIB
Australia Waspada Gelombang Panas, Peringatan Karhutla Gelombang panas menyambangi Australia dalam beberapa hari kedepan. (Foto: AP Photo/Rick Rycroft)
Jakarta, CNN Indonesia -- Australia tengah bersiap menghadapi gelombang panas dalam beberapa hari mendatang. Suhu di negara bagian Australia Selatan pada Kamis (30/1) mencapai di atas 40 derajat Celcius.

Peningkatan suhu mendorong pemerintah mengeluarkan peringatan rawan kebakaran hutan di beberapa daerah.

Gelombang panas diperkirakan juga akan terjadi di Melbourne, Sydney, dan Canberra pada Jumat (31/1) mencapai 45 derajat Celcius.


Dilansir AFP, pemerintah Australia mengatakan suhu panas dan kering disertai angin berpotensi memicu kebakaran hutan. Hingga saat ini lebih dari 80 kebakaran terpantau masih terjadi di negara bagian Victoria dan New South Wales.

"Kami mendapat banyak keuntungan dari beberapa kondisi selama beberapa hari terakhir. Seperti yang telah kami dengar, cuaca akan berubah panas dan kering," ungkap Komisioner Layanan Darurat Victoria, Andrew Crisp.

Ia sekaligus memperingatkan warga untuk bersiap dengan kemungkinan kebakaran hutan.

[Gambas:Video CNN]

Kendati mulai dilanda gelombang panas, hujan petir diperkirakan akan turun di beberapa wilayah. Hanya saja, kondisi itu justru menjadi ancaman bencana lain, termasuk potensi banjir bandang.

Ancaman kebakaran hutan diumumkan setelah laporan korban tewas mencapai 32 orang dan menghancurkan sebagian besar negara bagian New South Wales sejak September 2019 lalu.

Krisis usai kebakaran hutan hingga hujan es memicu seruan bagi pemerintah Australia untuk segera mengambil tindakan terkait perubahan iklim. Perdana Menteri Scott Morrison didesak untuk mengurangi ketergantungan pada batubara.

Para ilmuwan mengatakan bencana kebakaran hutan yang terjadi di Australia merupakan imbas perubahan iklim. Kekeringan juga membuat api menyebar dengan cepat di luar kendali.

Di sisi lain, Morrison dinilai lamban mengakui penyebab kebakaran hutan dan mengantisipasi penyebaran api. Morrison justru dinilai lebih fokus pada adaptasi iklim dan membangun ketahanan dibandingkan mengambil upaya konkret mengurangi emisi. (AFP/evn)