Milisi Afghanistan Diduga Culik Insinyur AS

CNN Indonesia | Jumat, 07/02/2020 15:39 WIB
Seorang warga AS, Mark Frerichs, diduga diculik kelompok milisi di Khost, Afghanistan. Seorang warga AS, Mark Frerichs, diduga diculik kelompok milisi di Khost, Afghanistan. (ilustrasi/Istockphoto/ Nito100)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang warga Amerika Serikat, Mark Frerichs, yang berasal dari Lombard, Illinois dilaporkan diculik di Afghanistan. Dia diduga ditawan oleh kelompok milisi Haqqani yang masih terkait dengan Taliban, meski sampai saat ini belum ada pihak yang mengakui.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (7/2), menurut laporan sementara, Frerichs diculik pada pekan lalu di Provinsi Khost. Insinyur teknik sipil itu disebut sudah bekerja sebagai kontraktor proyek infrastruktur di beberapa daerah di Afghanistan.


Ayah korban, Art Frerichs, membenarkan laporan tentang penculikan anaknya.


"Saya tidak bisa menyampaikan pernyataan lagi demi keselamatan anak saya. Saya memberi kepercayaan penuh kepada Presiden (Donald) Trump dan FBI," kata Art.

Kasus itu saat ini dilaporkan ditangani oleh Unit Penanganan Sandera yang dipimpin Biro Penyelidik Federal AS (FBI). Satuan itu dibentuk pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama sebagai reaksi atas kritik akibat sikap pemerintah AS terkait kasus penculikan.

Taliban sampai saat ini menyatakan tidak memiliki informasi tentang penculikan itu. Hingga saat ini juga belum ada pihak yang menyatakan menyandera Frerichs.

[Gambas:Video CNN]

Provinsi Khost dilaporkan memang menjadi basis kelompok bersenjata Haqqani. Pada November 2019, AS membebaskan Anas Haqqani yang merupakan adik bungsu dari Sirajuddin Haqqani.

Sirajuddin adalah wakil pemimpin Taliban dan kepala kelompok Haqqani. Sebagai gantinya, mereka membebaskan dua ilmuwan asal AS dan Australia, Kevin King dan Timothy Weeks.

Kevin dan Timothy mengajar di Universitas Amerika di Afghanistan. Keduanya diculik di Kabul sekitar empat tahun lalu.


Insiden penculikan terhadap Frerichs terjadi ketika Taliban dan AS tengah membicarakan kesepakatan perdamaian terkait perang yang sudah terjadi selama 18 tahun. Termasuk soal penarikan pasukan dan menentukan masa depan Afghanistan. (ayp/ayp)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK