Veronica Koman Desak Australia Bahas Konflik Papua ke Jokowi

CNN Indonesia | Senin, 10/02/2020 18:47 WIB
Veronica Koman Desak Australia Bahas Konflik Papua ke Jokowi Aktivis Veronica Koman mendesak Australia membahas konflik Papua kepada Presiden Joko Widodo. (Screenshot via Facebook VeronicaKoman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Advokat dan aktivis hak asasi manusia, Veronica Koman, menyatakan sudah menyampaikan sejumlah berkas terkait rincian tahanan politik dan korban tewas dalam konflik di Papua kepada Presiden Joko Widodo, dalam kunjungan kenegaraan di Australia. Dia juga mendesak pemerintah Negeri Kanguru membahas persoalan itu dengan Jokowi.

"Tim kami di Canberra telah berhasil menyerahkan dokumen-dokumen ini langsung kepada Presiden Jokowi. Dokumen ini memuat nama dan lokasi 57 tahanan politik Papua yang dikenakan pasal makar, yang saat ini sedang ditahan di tujuh kota di Indonesia," kata Veronica melalui keterangan pers, seperti dikutip dari akun Twitter, Senin (10/2).


"Kami juga menyerahkan nama beserta umur dari 243 korban sipil yang telah meninggal selama operasi militer di Nduga sejak Desember 2018, baik karena terbunuh oleh aparat keamanan maupun karena sakit dan kelaparan dalam pengungsian," ujar Veronica.


Veronica mendesak supaya krisis politik dan kemanusiaan di Papua segera dihentikan.



"Di awal periode pertamanya pada 2015, Presiden Jokowi membebaskan lima tahanan politik Papua. Masyarakat memandang ini sebagai langkah yang penuh dengan harapan baru bagi Papua. Namun pada awal dari periode keduanya saat ini, terdapat 57 orang yang dikenakan makar yang sedang menunggu sidang. Langkah ini hanya akan memperburuk konflik di Papua," ujar Veronica.

[Gambas:Video CNN]

Seperti dilansir Associated Press, Jokowi diberi kesempatan untuk berpidato di hadapan parlemen Australia di Canberra. Dalam kesempatan itu dia mengklaim Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi keempat dan jumlah kelas menengah ketiga terbesar di dunia pada 2050 mendatang.

Meski begitu, Jokowi juga menyinggung soal situasi geopolitik dan geoekonomi yang bisa mempengaruhi perkembangan ekonomi dunia.


"Pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan ancaman resesi masih menjadi tantangan, sehingga dikhawatirkan nilai-nilai demokrasi dan keberagaman akan termarjinalkan. Di tengah tantangan tersebut, Indonesia dan Australia harus fokus untuk memperkuat persahabatan," kata Jokowi dalam pidato tersebut. (ayp/ayp)


BACA JUGA