Cerita Turis WNI Soal Cara Korsel Hadapi Wabah Virus Corona

CNN Indonesia | Rabu, 26/02/2020 20:38 WIB
Cerita Turis WNI Soal Cara Korsel Hadapi Wabah Virus Corona Pemerintah Korea Slatan memperketat pemantauan terhadap warga dan turis asing di tengah lonjakan wabah virus corona. (Foto: STR / JIJI PRESS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang turis perempuan asal Indonesia memutuskan untuk tetap berlibur bersama temannya ke Korea Selatan di tengah meningkatnya kekhawatiran lonjakan infeksi virus corona.

Korea Selatan sejauh ini mencatat 1.146 kasus dengan 12 kematian. Negeri Ginseng juga menjadi negara dengan lonjakan kasus corona tertinggi sejauh ini di luar China.

Kendati demikian, turis asal Indonesia ini tak menampik rasa khawatir yang sempat terbersit dalam dirinya. Ia mengaku sempat was-was ketika menempuh perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu (23/2) menuju Seoul dengan transit di Hong Kong.


Perempuan yang enggan mengungkap identitasnya ini bercerita sejak turun pesawat untuk transit di Hong Kong, para penumpang sudah harus melalui proses pengecekan suhu tubuh sebanyak dua kali.

Sejak singgah di Hong Kong, ia dan penumpang pesawat lainnya juga telah mengenakan masker. Perasaan was was masih menghinggapi ketika ia hendak melanjutkan perjalanan dari Hong Kong menuju Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.

"Orang-orang semakin heboh ketika naik penerbangan dari Hong Kong ke Seoul. Bukan cuma pakai masker, beberapa penumpang bahkan sampai memakai pakaian pelindung dan sarung tangan plastik," kata perempuan berusia sekitar 25 tahun itu kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/2).

Setibanya di Incheon, ia menuturkan pesawat yang ditumpanginya melalui proses pemeriksaan lebih ketat dari yang lain karena sempat transit di Hong Kong- negara yang dianggap sebagai wilayah China. Tak hanya itu, para penumpang juga diberi semacam tanda pengenal bertuliskan 'Incheon Airport'.

Pemantauan di Dalam dan Luar Bandara

Seluruh penumpang masih harus melalui pemeriksaan selama 2,5 jam sampai benar-benar keluar imigrasi. Selama pemeriksaan, para penumpang diminta mengisi dua formulir berupa pernyataan diri apakah pernah bepergian ke China dalam 21 hari terakhir dan memiliki gejala virus corona atau tidak.

Tak hanya itu, dalam formulir itu para turis juga diharuskan melengkapi informasi tempat tinggal dan nomor telepon aktif selama berada di Korea Selatan. Selain mengisi formulir, para penumpang juga akan diwawancara oleh petugas imigrasi di tempat mereka tinggal.

"Mereka (Petugas imigrasi bandara) bahkan cek ke hotelnya apakah benar kita tinggal di sana dan mereka juga cek nomor telepon kita aktif atau enggak," ujarnya menambahkan.

Pemantauan turis asing tak sampai di loket imigrasi. Setelah merampungkan pemeriksaan, seluruh turis akan diminta untuk mengunduh aplikasi besutan Kementerian Kesehatan Korea Selatan.
Cerita Turis WNI Dipantau Ketat Korsel di Tengah Kasus CoronaWNI di Korea Selatan. (Foto: Dok. KBRI Seoul)

Aplikasi in berisi pemeriksaan kesehatan pribadi dengan beberapa aspek seputar suhu tubuh dan indikasi gejala Covid-19. Perempuan Indonesia ini mengatakan aplikasi itu harus diisi setiap hari selama berada di Korea Selatan.

Pihak berwenang juga meminta para turis untuk selalu mengaktifkan fitur GPS di ponsel karena aplikasi tersebut akan dimonitor pemerintah setiap saat.

Akibat instruksi itu, seluruh turis membeli kartu SIM sementara untuk berkomunikasi selama pelesiran ke Korea Selatan.

Pemantauan aktivitas dan kesehatan tak hanya terjadi satu arah. Untuk setiap penambahan kasus virus corona di Korea Selatan, ponsel para turis akan menerima notifikasi otomatis berupa peringatan darurat.

Tempat Wisata Sepi Pengunjung

Setelah tinggal beberapa hari di Seoul, sebuah pemandangan tak biasa mulai terasa. Kota yang biasanya ramai oleh turis dan warga lokal, kini terasa lebih sepi dari kunjungan.

Padahal, sebelum wabah virus corona tempat wisata di Seoul tetap ramai meski di hari biasa (tanpa ada perayaan atau festival khusus).

"Tempat wisatanya sepi, lowong banget. Jauh berbeda dibandingkan ketika saya ke sini dulu. Padahal saya berkunjung ke tempat-tempat wisata juga di hari biasa," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya sepi pengunjung, lalu lalang orang tanpa menggunakan masker juga nyaris tak ada. Peringatan virus corona dan cairan antiseptik pencuci tangan kini lazim ditemui di setiap sudut tempat publik termasuk bus, stasiun, hingga tempat wisata.

Di tempat penginapan, tak ada makanan buffet yang disajikan. Pihak hotel meminta seluruh tamu untuk makan di kamar masing-masing demi mencegah risiko penyebaran virus corona.

"Hotel pun tidak buka resto untuk sarapan. Jadi seharusnya buffet, tapi sebagai gantinya mereka memberi kita roti isi dan minum kaleng. Kami diminta untuk makan di kamar masing-masing," paparnya. (rds/evn)