Mahathir Siap Menjabat Lagi jika Didukung Mayoritas Parlemen

CNN Indonesia | Rabu, 26/02/2020 17:51 WIB
Mahathir Siap Menjabat Lagi jika Didukung Mayoritas Parlemen PM Interim Malaysia, Mahathir Mohamad, menyatakan bersedia diangkat kembali menjadi PM tetap jika mendapat suara mayoritas di parlemen. (AP/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Interim Malaysia, Mahathir Mohamad, menyatakan bersedia kembali menjadi PM tetap Negeri Jiran jika mendapat suara mayoritas di parlemen. Hal itu diutarakan Mahathir dalam pidato perdananya kepada publik pasca-pengunduran dirinya sebagai PM pada awal pekan ini.

"Sebenarnya saya telah berjanji akan meletakan jabatan (PM) untuk memberi peluang kepada Dewan Rakyat (parlemen) menentukan siapa yang akan mengganti saya. Jika benar saya masih disokong, saya akan kembali. Jika tidak saya akan terima siapa saja yang dipilih," kata Mahathir dalam pidatonya di Putrajaya yang disiarkan di stasiun televisi Malaysia, Rabu (26/2).




Mahathir merasa para politikus lebih mementingkan partai-partai mana yang berkuasa serta kalah atau menang ketimbang kepentingan negara. Demi menghindari itu, Mahathir memaparkan dia memutuskan mengundurkan diri.

"Politik, orang politik, dan partai politik terlalu utama politik sehingga lupa negara menghadapi masalah ekonomi dan kesehatan yang mengancam negara," kata Mahathir seperti dikutip kantor berita Bernama.



Menurut Mahathir, pemerintah dan parlemen perlu mengesampingkan kepentingan golongan karena Malaysia tengah menghadapi sejumlah tantangan yang tidak mudah.

Pemimpin berusia 94 tahun itu bahkan mengutarakan niatnya untuk membentuk pemerintah yang netral dan tidak memihak pada partai-partai tertentu jika diberi peluang kembali menjabat sebagai pemimpin Negeri Jiran.

"Hanya kepentingan negara saja yang diutamakan," paparnya menambahkan.

Dalam pidatonya itu, Mahathir turut meminta maaf kepada semua rakyat Malaysia jika keputusannya mengundurkan diri sebagai PM membuat kekacauan politik di Negeri Jiran dan meresahkan warga.

Ia membantah bahwa alasan dirinya mundur sebagai PM adalah karena "gila kuasa" dan enggan menyerahkan jabatan kepada Presiden Partai Keadilan Rakyat, Anwar Ibrahim, sesuai janji politiknya pada pemilu 2018 lalu.

Pada masa kampanye pemilu 2018, Mahathir dan Anwar memang sepakat membentuk koalisi baru demi melawan koalisi yang berkuasa saat itu, yakni Barisan Nasional, yang dipimpin eks PM Najib Razak.

Mahathir juga berjanji jika koalisinya yang dipimpinnya menang, ia akan membebaskan Anwar yang saat itu masih dipenjara. Mahathir juga berjanji tidak akan menyelesaikan masa pemerintahan dan akan mengalihkan jabatannya sebagai PM tak lama setelah berkuasa.

[Gambas:Video CNN]

Meski begitu, hingga Mahathir mengundurkan diri Senin lalu, proses peralihan jabatan PM kepada Anwar tidak pernah terjadi. (rds/ayp)