Parlemen Malaysia Cari Calon Pengganti Mahathir Pekan Depan

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 19:49 WIB
Pemilihan PM Baru Malaysia akan digelar oleh parlemen karena Raja Malaysia, Sultan Abdullah, tidak mendapatkan calon dengan dukungan mayoritas. Perdana Menteri Interim Malaysia, Mahathir Mohamad. Pemilihan PM Baru Malaysia akan digelar oleh parlemen karena Raja Malaysia, Sultan Abdullah, tidak mendapatkan calon dengan dukungan mayoritas. (AP/Andy Wong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Sementara MalaysiaMahathir Mohamad, mengatakan Dewan Rakyat (parlemen Malaysia) akan memutuskan perdana menteri baru pada Senin (2/3), karena sampai saat ini tidak ada calon yang meraih dukungan mayoritas di parlemen.

Penunjukan itu berlangsung sepekan setelah Mahathir mengundurkan diri sebagai PM. Sejak itu, Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agung Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah, telah bertemu dan mewawancarai sejumlah anggota parlemen demi mencari penggantinya.


Mahathir, yang ditunjuk Raja sebagai PM interim, mengatakan sejauh ini tidak ada kandidat PM yang muncul dengan mayoritas dukungan Dewan Rakyat sejauh ini.


Seorang kandidat PM harus mendapat dukungan dari setidaknya 122 anggota Dewan Rakyat jika ingin menjadi penerus PM.

"Raja mengatakan bahwa forum yang tepat adalah parlemen. Parlemen akan menggelar rapat pada Senin untuk menentukan siapa yang memiliki dukungan yang cukup," kata Mahathir di Kuala Lumpur pada Kamis (27/2).

Mahathir mengatakan jika parlemen gagal menemukan kandidat PM dengan dukungan mayoritas, Negeri Jiran harus segera menggelar pemilihan umum.

Dilansir AFP, Mahathir mengatakan dia dan partainya, Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM/Bersatu), kemungkinan akan mencalonkan sekutunya yakni Muhyiddin Yassin untuk menjadi calon PM.

Yassin merupakan mantan menteri dalam negeri Malaysia.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, sejauh ini tiga partai politik Malaysia telah mencalonkan Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim sebagai calon PM.

Padahal, Mahathir dan Anwar memiliki perjanjian politik pada kampanye pemilu 2018 lalu. Saat itu, Mahathir dan Anwar sepakat membentuk koalisi baru demi melawan koalisi yang berkuasa saat itu, yakni Barisan Nasional, yang dipimpin eks PM Najib Razak.

Mahathir juga berjanji jika koalisinya yang dipimpinnya menang, ia akan membebaskan Anwar yang saat itu masih dipenjara. Mahathir juga berjanji tidak akan menyelesaikan masa pemerintahan dan akan mengalihkan jabatannya sebagai PM tak lama setelah berkuasa.

Meski begitu, hingga Mahathir mengundurkan diri Senin lalu, proses peralihan jabatan PM kepada Anwar tidak pernah terjadi.

Kembali ke Partai

Sekretaris Jenderal PPBM, Marzuki Yahya, menyatakan Mahathir batal mengundurkan diri sebagai ketua partai tersebut. Dewan Penasihat PPBM juga menolak pengunduran diri Mahathir pada Selasa lalu.


"Setelah berbincang dengan Tun (Mahathir) hari ini, dia setuju untuk kembali sebagai ketua Bersatu secepatnya," kata Yahya melalui pernyataan.

Jika pada akhirnya parlemen gagal memutuskan siapa yang akan diangkat menjadi perdana menteri, maka satu-satunya cara adalah menggelar pemilihan umum sela. (rds/ayp)