Mahathir Bantah Jadi Biang Gejolak Politik Malaysia

CNN Indonesia | Kamis, 05/03/2020 10:08 WIB
Eks PM Malaysia, Mahathir Mohamad, mengatakan gejolak politik di Malaysia bukan dipicu oleh pengunduran dirinya. Eks PM Malaysia, Mahathir Mohamad, mengatakan gejolak politik di Malaysia bukan dipicu oleh pengunduran dirinya. (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, membantah tuduhan menjadi pemicu gejolak politik setelah memutuskan mengundurkan diri pada 24 Februari lalu.

Bantahan tersebut disampaikan Mahathir setelah Raja Malaysia, Yang-di-Pertuan Agung Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin al-Bustafa Billah Shah, mengangkat Muhyiddin Yassin untuk menggantikannya sebagai perdana menteri.


"Apakah benar saya mengundurkan diri tanpa alasan? Saya, yang mendapatkan dukungan partai penguasa dan oposisi, termasuk (mantan PM) Najib Razak dan lainnya yang sedang menjalani sidang korupsi? Ini tidak masuk akal," tulis Mahathir dalam blog chedet.cc, seperti dilansir AsiaOne, Kamis (5/3).


Mahathir mengatakan alasan dia meletakkan jabatan setelah menyatakan di hadapan Raja Abdullah bahwa dia tidak mendapat dukungan mayoritas.

Setelah itu, lanjut Mahathir, dia sempat mengajukan calon lain kepada partai koalisi dan partai yang dipimpinnya, Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) untuk menggantikannya sebagai perdana menteri. Namun, usulannya itu ditolak.

[Gambas:Video CNN]

"Siapa yang akan ganti saya. Rakyat bosan dengan orang politik yang mengutamakan pencitraan. Saya mengusulkan untuk membentuk pemerintahan dipimpin bukan oleh profesional dan politikus tidak tunduk terhadap agenda partai. Tetapi usulan saya ditolak. Saya pun meletakkan jabatan," ujar Mahathir.

Muhyiddin mengatakan dalam pidato menyangkal tuduhan pengkhianat yang disampaikan Mahathir.

Yassin mengatakan dia tidak pernah berharap menjabat sebagai perdana menteri. Namun, kandidat lain tidak ada yang mendapatkan dukungan mayoritas, sementara dia diusulkan oleh Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu).


"Saya perlu berpikir lama sebelum membuat keputusan. Pilihan apa yang saya punya? Untuk terus mendukung Dr. Mahathir yang tidak mendapatkan suara mayoritas atau menerima pencalonan sebagai perdana menteri?," kata Yassin.

"Jika saya terus mendukung Mahathir, gejolak politik akan berlanjut. Ada kemungkinan parlemen dibubarkan dan digelar pemilihan umum," ujar Yassin. (ayp/ayp)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK