SUDUT CERITA

Ketimpangan si Kaya dan Miskin akibat Corona di Amerika Latin

CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 16:13 WIB
Ilustrasi. Sejumlah warga masih beraktivitas di luar ruangan di tengah pandemi virus corona. (Foto: AP Photo/Emilio Morenatti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Negara-negara di Amerika Latin tak luput dari penyebaran pandemi virus corona yang hingga kini kasusnya telah menginfeksi sekitar 789.218 orang di seluruh dunia. Covid-19 yang menyebar di Amerika Latin memicu ketimpangan sosial paling kentara termasuk di ibu kota Port-au-Prince di Haiti, Santiago di Chile, hingga Meksiko.

Sebagian besar penyebaran virus corona di Amerika Latin diketahui dibawa oleh kalangan elite yang kembali dari berlibur atau berdinas ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Berbeda dengan kalangan menengah ke bawah, kebanyakan kaum elite dinyatakan pulih dari Covid-19 setelah mendapat perawatan, atau cukup dengan melakukan karantina mandiri di rumah.


Namun, para ahli mengingatkan virus corona masih menjadi ancaman kematian bagian sebagian besar orang miskin di Amerika Latin. Berbeda dengan yang memiliki kecukupan materi, 'si miskin' tak bisa mengikuti aturan karantina karena masih harus bekerja setiap hari untuk menghidupi keluarga.

Ditambah perawatan medis dan kondisi tempat tinggal yang tidak memiliki fasilitas memadai menjadi nilai minus yang tidak memihak kaum miskin.

"Amerika Latin adalah wilayah yang paling tidak setara di seluruh dunia. Kita berbicara tentang perbedaan kelas yang tidak seperti tempat lain di planet ini," kata seorang peneliti di Kedutaan Washington di Amerika Latin, Geoff Ramsey seperti mengutip Associated Press.

[Gambas:Video CNN]

Nasib si miskin di Haiti

Marie-Ange Bouzi, pedagang tomat dan bawang di ibu kota Haiti merupakan salah satunya. Ia mengaku tidak mendapatkan insentif jika mengikuti aturan untuk tinggal di rumah. Oleh karena itu, ia memilih untuk tetap berjualan ketimbang berdiam diri di rumah dan tidak mendapat penghasilan.

"Saya tidak akan menghabiskan uang melawan corona. Orang tidak akan tinggal di rumah. Bagaimana mereka akan makan? Haiti tidak terstruktur untuk itu (karantina)," ujar Bouzi.

Ketimpangan si Kaya dan Miskin akibat Corona di Amerika LatinFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Selain Bouzi, ada ratusan pedagang kaki lima di Haiti yang berpenghasilan pas-pasan. Mereka memilih tetap bekerja demi menghasilkan beberapa dolar sehari untuk bertahan hidup, dibandingkan mengkarantina diri dalam situasi kelaparan.

Haiti merupakan negara termiskin di belahan barat Bumi yang melaporkan dua kasus virus corona pertama pada 20 Maret lalu.

Direktur kesehatan Haiti mengungkapkan, salah satu pasien yang terinfeksi corona merupakan Roody Roodboy, seorang musisi R&B yang baru pulang dari Prancis. Pria bernama asli Roody Petuel Dauphin ini sempat dikarantina di rumahnya dan seluruh krunya diminta melakukan pemeriksaan.

Sejak saat itu, Dauphine mendapat teror dan ancaman dari orang-orang yang menuduhnya sebagai pembawa penyakit mematikan ke Haiti. Kendati demikian, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa ia telah menginfeksi orang lain.

Data yang dihimpun Worldometers mencatat 15 orang di Haiti terinfeksi virus corona, satu diantaranya dinyatakan sembuh.

Selain mengeluarkan aturan tetap tinggal di rumah, pemerintah Haitu juga telah memangkas jam kerja bagi kantor pemerintahan dan perbankan serta menutup sekolah. Namun warga masih meramaikan pasar, bus, dan truk pick up.

Lanjut ke halaman berikutnya: Arogansi si kaya dan insentif pemerintah.

Sikap arogan 'si kaya'

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2