Banyak pemerintah di seluruh dunia telah melakukan lockdown atau mengunci populasi mereka untuk memperlambat penyebaran virus. Tetapi mereka memandang hal itu bisa mengakibatkan perlambatan perdagangan internasional dan rantai pasokan makanan.
Padahal, pada saat bersamaan masyarakat yang sedang dikepung wabah tersebut melakukan aksi panic buying atau pembelian panik. Aksi tersebut kata mereka telah memicu kerapuhan rantai pasokan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Lockdown India dan Kegetiran Para Perantau |
Mereka menyatakan peringatan itu bukan ancaman kosong. Setelah krisis keuangan global 2007, negara-negara penghasil beras India dan Vietnam membatasi ekspor untuk menangkal kenaikan harga yang diperkirakan.
Hasilnya; kerusuhan pangan terjadi di beberapa negara berkembang karena harga beras melonjak. Menurut mereka, fenomena tersebut sekarang telah terjadi. Fenomena bisa dilihat dari langkah Rusia.
Pasalnya, para pejabat di sana telah mempertimbangkan pembatasan ekspor gandum supaya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka dan memastikan harga tidak melonjak.
[Gambas:Video CNN]
Mereka menyatakan jika masalah tersebut dibiarkan terus berlangsung, masalah pangan akan terjadi. Maklum, di tengah kondisi itu, tenaga kerja pertanian dan pasar mulai kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan.
"Di tengah-tengah lockdown virus corona, setiap upaya harus dilakukan untuk memastikan perdagangan bisa mengalir sebebas mungkin, khususnya untuk menghindari kekurangan pangan," kata pernyataan bersama itu.
Ekonom senior FAO Abdolreza Abbassian mengatakan mengatakan permasalahan pangan akibat virus corona sebenarnya secara kasat mata sudah bisa dilihat dari fenomena belakangan ini.
Dia percaya peristiwa di protes yang dilakukan masyarakat India karena mengalami krisis pangan saat lockdown virus corona beberapa waktu lalu.
"Itu menunjukkan kita baru berada di awal krisis ini," katanya.
(afp/agt)