Wabah Corona Membayang Tokyo dan Jepang yang Enggan Lockdown

CNN, CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2020 04:55 WIB
Angka kasus positif virus corona di Tokyo bertambah drastis pekan ini, namun pemerintah Jepang bersikeras tak berlakukan lockdown. Ilustrasi. (CHARLY TRIBALLEAU / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus virus corona (SARS-CoV-2) di Tokyo, Jepang, bertambah dalam beberapa minggu belakangan. Dalam dua hari, kenaikan kasus positif Covid-19 pun naik lebih dari dua kali lipat.

Pekan lalu, kasus Covid-19 di Tokyo naik dari 40 pada Selasa (31/3) menjadi 97 pada Kamis (2/4), serta bertambah 89 kasus lagi pada Jumat (3/4), seperti dilaporkan Pemerintah Tokyo Metropolitan.

Kentaro Iwata, seorang spesialis pengendalian infeksi dari Universitas Kobe, khawatir jika kondisi ini terus berlanjut maka Tokup bisa menjadi New York berikutnya.


Iwata telah berulang kali memperingatkan bahwa pemerintah Jepang tidak berbuat cukup gesit untuk menghentikan penyebaran virus.

"Jepang perlu keberanian untuk berubah, kita sudah ada di jalan yang salah ketika sadar nanti," tuturnya. "Kita mungkin melihat New York berikutnya di Tokyo."

Saat ini, New York menjadi pusat penyebaran Covid-19 terbesar di Amerika Serikat (AS). Berdasarkan hitungan CNN, jumlah kasus di kota itu berlipat ganda tiap lima hari. Hingga saat ini, sebanyak 2.900 orang tewas di kota itu.

Pada Jumat (3/4) terdapat 3.329 kasus positif Covid-19 di kota itu dengan 74 kematian.

Iwata menekankan pemerintah perlu menggalakan pengetesan.

Sebab, berdasarkan data Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, per Jumat (3/4) Tokyo baru mengetes 4 ribu orang di kota dengan penduduk 13,5 juta orang itu. Sementara di seluruh negeri berpenduduk 125 juta orang itu baru dilakukan pengetesan terhadap 39.466 orang.

Warga Jepang masih berkerumun di Tokyo untuk menikmati sakura yang mekar saat wabah Covid-19 tengah menghantui (Behrouz MEHRI / AFP)

Angka ini sangat kecil dibanding negara lain di kawasan itu. Jika dibandingkan dengan Korea Selatan, negara itu telah mengetes 440 ribu orang. Padahal Korsel yang punya penduduk lebih sedikit dari Jepang.

Namun, menurut pemerintah Jepang pengujian yang mereka lakukan tepat sasaran dan hanya ditujukan untuk kasus-kasus berisiko tinggi.

"Mengetes orang yang punya kemungkinan virus corona baru akan sia-sia," jelas Menteri Kesehatan Jepang. "Kami meminta orang dengan sejumlah gejala untuk tetap berada di rumah dalam masa waktu tertentu."

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga berulang kali menyatakan kalau negara itu tidak akan melakukan keadaan darurat atau melakukan lockdown di Tokyo.

Tindakan itu menurutnya akan memperparah kondisi ekonomi Jepang yang sudah jatuh akibat pandemi virus corona dan penundaan Olimpiade musim panas Tokyo 2020.

Anggota parlemen Jepang sedang mempertimbangkan untuk memberikan paket stimulus ekonomi besar-besaran, termasuk memberi uang tunai kepada rumah tangga Jepang. Sebelumnya, pemerintah banyak mendapat cemooh dengan rencana untuk mendistribusikan dua masker wajah kain per rumah tangga.

Sejauh ini, Jepang telah memberlakukan pembatasan perjalanan yang melarang orang asing dari lebih dari 70 negara, termasuk AS, Inggris, dan sebagian besar Eropa.

Jepang juga telah melakukan pemeriksaan kesehatan di bandara dan meminta semua wisatawan yang masuk karantina selama 14 hari, meskipun tingkat kepatuhan aturan ini tidak dipantau secara aktif.

[Gambas:Video CNN]

Muncul juga kekhawatiran bahwa langkah pemerintah memberi peringatan bahaya penyebaran virus ini terlambat dan virus itu sudah menginfeksi banyak orang.

Pekan lalu, warga Tokyo berkerumun dalam jumlah besar untuk menyaksikan bunga sakura yang tengah mekar. Beberapa orang terlihat mengenakan masker, tetapi banyak pula yang tidak.

Foto-foto kegiatan ini menyebar luas di media sosial dan mendapat sorotan dari media lokal dan internasional. Hal ini lantas mendorong pemerintah penutupan beberapa taman Tokyo yang belum pernah terjadi sebelumnya selama akhir pekan.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike dan Abe lantas meminta masyarakat untuk tinggal di rumah, menghindari perjalanan, dan berlatih menjaga jarak sosial. Beberapa warga mengikuti anjuran tersebut, tetapi banyak yang tidak.

Koike dan Abe juga telah mendesak penduduk Tokyo untuk bekerja dari rumah. Saran ini diikuti oleh perusahaan-perusahaan besar Jepang seperti Honda, Toyota dan Nissan. Namun, berdasarkan data 2019, telework tidak mungkin dilakukan untuk sekitar 80 persen perusahaan Jepang.

Hingga saat ini, masih banyak orang bepergian ke ibukota. Kereta subway tetap padat pada jam sibuk. Meski beberapa department store besar Jepang melakukan penutupan sementara, tapi masih ada sekitar 500 lokasi Starbucks, bar, dan restoran yang tetap buka dan dipenuhi pelanggan. (eks)