Singapura Baru Tutup Sekolah, Yakin Pelajar Tak Rentan Corona

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 07:00 WIB
Singapura Baru Tutup Sekolah, Yakin Pelajar Tak Rentan Corona Ilustrasi Stadion Nasional Singapura. (Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Singapura mempunyai alasan tersendiri dengan tidak menutup sekolah lebih awal meski turut terdampak di tengah wabah virus corona (Covid-19).

Menteri Pendidikan Singapura, Ong Ye Kung, mengatakan keputusan itu diambil karena beranggapan kelompok masyarakat usia muda, termasuk pelajar, cenderung tidak terlalu terpengaruh oleh virus dibandingkan orang dewasa.

"Sementara tidak ada bukti bahwa mereka adalah kelompok yang rentan tertular," kata Ong dalam wawancara Bloomberg TV sebagaimana dilansir dari South China Morning Post, Selasa (7/4).


Meski begitu, mulai Rabu (8/4) besok, Singapura akan menutup seluruh sekolah dan mengalihkan kegiatan pembelajaran di rumah. Keputusan itu muncul ketika kasus-kasus penularan lokal semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir.


Awalnya, Singapura adalah salah satu dari segelintir negara yang menolak menutup sekolah, bahkan ketika lebih dari 160 negara telah melakukannya.

Pada Senin (6/4) kemarin, peneliti di Universitas Kolese London (UCL) mengatakan dampak yang diberikan dari penutupan sekolah untuk meminimalisir penyebaran virus corona cenderung kecil.

"Kami tahu dari penelitian sebelumnya bahwa penutupan sekolah kemungkinan memiliki efek terbesar jika virus memiliki tingkat penularan yang rendah dan tingkat serangan lebih tinggi pada anak-anak. (Anggapan) Ini adalah kebalikannya, " kata Russell Viner, seorang ahli di Institut Kesehatan Anak Great Ormond Street UCL yang turut memimpin penelitian tersebut.

Russel menyebut para pembuat kebijakan perlu lebih waspada ketika mempertimbangkan penutupan sekolah untuk meminimalisir Covid-19, mengingat efek sosial mendalam dan panjang yang akan dialami masyarakat di usia muda terutama anak-anak.

Jutaan anak-anak di seluruh dunia terdampak akibat penutupan sekolah di sejumlah negara. Hal itu dilakukan saat banyak negara menerapkan langkah-langkah penjagaan jarak untuk mencoba memperlambat penyebaran pandemi virus corona.


Penelitian Viner, yang diterbitkan pada Senin (6/4) malam, memperkirakan bahwa pada 18 Maret ada sekitar 107 negara yang terpaksa menutup sementara sekolah.

Untuk menganalisis dampak potensial, tim Viner meninjau 16 studi sebelumnya, termasuk sembilan yang meneliti penutupan sekolah selama wabah Sindrom Saluran Pernapasan Akut (SARS) pada 2003. Dalam studi tersebut, Viner mendapatkan bahwa data dari tiga negara terdampak SARS menunjukkan penutupan sekolah tidak berdampak besar dalam mengendalikan epidemi saat itu.

"Data dari wabah SARS di China, Hong Kong dan Singapura menyarankan penutupan sekolah tidak berkontribusi untuk mengendalikan epidemi," kata peneliti.

Beberapa ahli yang tidak terlibat langsung dalam penelitian ini mengatakan, temuan tersebut mengonfirmasi bahwa manfaat kesehatan masyarakat dari penutupan sekolah tidak sebanding dengan biaya sosial dan ekonomi untuk anak-anak dan keluarga yang terkena dampak.
Singapura Baru Tutup Sekolah, Yakin Pelajar Tak Rentan Corona(CNN Indonesia/Fajrian)
"Hal ini menunjukkan bahwa sekolah dapat, dan harus, mulai dibuka kembali secepatnya setelah gelombang awal kasus telah berlalu," kata Robert Dingwall, seorang profesor sosiologi di Universitas Nottingham Trent, Inggris.

Viner mengatakan temuan itu menyarankan negara harus mulai memikirkan tentang kapan dan bagaimana membuka kembali sekolah. Namun, peneliti juga mengatakan langkah-langkah lain, seperti pembatasan waktu istirahat serta menutup taman bermain sekolah, serta meminimalkan pergerakan anak-anak di antara kelas dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran virus corona.

Sejauh ini, berdasarkan situs worldometer pada Selasa (7/4), Singapura telah melaporkan total 1.375 kasus virus corona dengan 6 kematian. (ara)

[Gambas:Video CNN]