Korsel Gelar Pemilu di Tengah Corona, 43 Juta Warga Memilih

CNN Indonesia | Rabu, 15/04/2020 14:49 WIB
Workers wearing protective gears spray disinfectant as a precaution against the COVID-19 at a local market in Daegu, South Korea, Sunday, Feb. 23, 2020. South Korea's president has put the country on its highest alert for infectious diseases and says officials should take Virus corona di Korea Selatan. (Im Hwa-young/Yonhap via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Selatan memutuskan untuk tetap menggelar pemilu di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Sebanyak 43,9 juta pemilih akan memberikan hak suara dalam pemilihan Parlemen pada Rabu (15/4) ini.

Korsel menjadi negara pertama terpapar parah corona yang mengadakan pemilihan umum secara nasional sejak pandemi global dimulai pada Desember 2019.

"Kami sekarang mengadakan pemilihan pada waktu yang sangat sulit di tengah kampanye sosial yang jauh dan kontraksi kegiatan ekonomi. Silakan pergi ke tempat pemungutan suara dan tunjukkan bahwa Anda adalah warga negara ini," kata Ketua Komisi Pemilihan Kwon Soon-il seperti dikutip dari AFP.



Untuk menjaga keamanan penduduk dari wabah, pemerintah Korsel menyiapkan langkah-langkah keamanan dan aturan tertentu yang diimplementasi kepada para pemilih.

Tempat pemungutan suara khusus didirikan di delapan fasilitas karantina pusat sejak akhir pekan. Semua warga negara diwajibkan mengenakan masker dan menjalani pemeriksaan suhu di tempat pemungutan suara.

Bagi mereka yang mengalami demam akan tetap memberikan suara mereka, namun di bilik khusus yang telah disiapkan. Bilik tersebut akan didesinfeksi setiap kali digunakan.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian

Para pemilih juga diminta untuk mengenakan sarung tangan plastik setelah membersihkan tangan mereka dengan sanitizer di tempat pemungutan suara, dan diwajibkan menjaga jarak setidaknya satu meter (tiga kaki) satu sama lain.

Sementara itu, warga yang tengah melakukan isolasi mandiri di rumah akan diizinkan untuk memberikan suara dalam waktu 100 menit selama mereka tidak menunjukkan gejala-gejala umum virus.

Namun, bagi warga yang mengisolasi diri di rumah dan mengalami gejala, maka secara efektif mereka kehilangan hak pilihnya.


Sebelum pemilihan, metode kampanye juga beradaptasi dalam situasi darurat. Alih-alih berjabat tangan secara tradisional dengan memberikan kartu nama, para kandidat menjaga jarak dari warga, dan memberi hormat.

Banyak kandidat yang beralih menggunakan media online seperti Youtube dan Instagram untuk menjalin komunikasi dengan para pemilih. Beberapa secara sukarela mendisinfeksi bagian-bagian dari daerah pemilihan mereka.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Gallup Korsel pekan lalu menunjukkan bahwa 27 persen responden di Korsel enggan memilih karena pandemi yang masih berlangsung. Sementara, 72 persen lainnya mengaku mereka tidak khawatir untuk memilih.


Korea Selatan adalah salah satu negara pertama yang diserang virus corona setelah China.

Saat ini Korea Selatan telah melaporkan sebanyak 10.591 kasus dengan 225 kematian akibat virus corona. Namun, angka kasus baru di Korsel semakin menurun. Hingga kini, kurang dari 40 kasus baru Covid-19 yang tercatat di Korsel dalam enam hari terakhir. (ara/dea)

[Gambas:Video CNN]