Bocor Percakapan PM Malaysia dan Mahathir Soal Koalisi

CNN Indonesia | Kamis, 14/05/2020 22:47 WIB
In this Saturday, Feb. 22, 2020, photo, Malaysian Prime Minister Mahathir Mohamad, gesture as he speaks during a press conference in Putrajaya, Malaysia. Mahathir has tendered his resignation to the king, his office reported Monday. (AP Photo/Vincent Thian) Mahathir Mohamad disebut berbicara dengan Muhyiddin Yassin soal koalisi Pakatan Harapan. (AP/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah rekaman audio yang diduga pertemuan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dengan Mahathir Mohamad bocor ke media sosial.

Dalam rekaman berdurasi satu menit tersebut, terdapat suara pria yang diduga sebagai Muhyiddin memberi mandat kepada Mahathir untuk menarik Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Partai Bersatu) dari koalisi Pakatan Harapan (PH).


"Kami berharap Doktor Mahathir bisa melakukan perombakan kabinet sebelum parlemen berkumpul kembali [...] menyelesaikan semua dalam pekan ini. Mungkin kita bisa menunggu sampai Dr Mahathir bertemu dengan para pemimpin partai," sebut suara yang diduga Muhyiddin.


"Oke, kami menunggu satu pekan. Cukup emosional hari ini dan kami sedang membahas masalah paling penting dalam sejarah, yaitu keluar dari Pakatan, tetapi kita tetap akan berada dalam pemerintahan. Pemerintahan yang dipimpin Bersatu, itu yang penting," sambungnya.

Suara tersebut juga terdengar mengatakan keputusan Mahathir sebaiknya tak lagi diperdebatkan karena pengalaman sosok mantan perdana menteri Malaysia tersebut.

"Jadi, jika berkenan, kita akhiri pertemuan hari ini dan setelah itu kita akan memberi mandat kepada Dr Mahathir? Setuju?" ujar lelaki tersebut yang kemudian mendapat persetujuan dari peserta pertemuan.

"Kita tidak pernah meragukan kebijaksanaan Dr Mahathir. Dia sudah menjadi perdana menteri begitu lama, kita harus menghormatinya. Jadi kita harus melakukan apa yang dia katakan. Keputusan kita adalah menghormati pendapat Dr Mahathir, kita mengerti apa yang ia maksud tetapi beri sedikit waktu," tambahnya.

Menurut sebuah sumber seperti dikutip dari Straits Times, pertemuan tersebut berlangsung pada 23 Februari sebelum pertemuan lain di tempat yang sama dan dihadiri anggota parlemen Barisan Nasional dan mantan anggota parlemen Pakatan Harapan sekaligus eks Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat, Mohamed Azmin bin Ali.

Sebelumnya para pemimpin PH juga menghadiri rapat pada 21 Februari. Ketika itu mereka menekan Mahathir untuk menetapkan tanggal transisi bagi presiden Partai Keadilan Rakyat Anwar Ibrahim untuk mengambil alih jabatan perdana menteri. Partai Bersatu ketika itu sudah mengancam menarik diri dari koalisi.

"Gerakan Sheraton" itu memicu kebuntuan politik selama sepekan yang mengakibatkan runtuhnya pemerintahan PH yang digantikan Perikatan Nasional, yang dipimpin Muhyiddin sebagai perdana menteri.

Mahathir baru-baru ini mengatakan ia terpaksa mundur sebagai perdana menteri dan ketua Partai Bersatu karena partainya memutuskan keluar dari PH dan bekerja sama dengan Barisan Nasional.

Pernyataan tersebut disangkal juru bicara Bersatu Radzi Jidin yang menyebut Mahathir setuju Partai Bersatu keluar dari PH namun kemudian mengubah pendirian.


Putra Mahathir yang menjabat Wakil Presiden Bersatu, Datuk Seri Mukhriz Mahathir, mengatakan ayahnya tak pernah setuju Partai Bersatu meninggalkan PH.

Partai Bersatu saat ini terpecah antara faksi Mahathir yang ingin kembali ke PH dan faksi Muhyiddin yang ingin tetap di pakta Perikatan Nasional.

Setelah Pakatan Harapan kehilangan kekuasaan federal, parlemen akan kembali bersidang pada 18 Mei mendatang dan semua menanti mosi tidak percaya yang diajukan kepada Muhyiddin. (nva/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK