"Laporan awal menduga bahwa sindrom ini (sindrom serupa Kawasaki) mungkin berhubungan dengan covid-19," ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual, Jumat (15/5).
Sebelumnya, Pediatric Intensive Care Society (PICS) Inggris menyatakan terdapat sejumlah kasus pada anak-anak yang memiliki sakit kritis dengan sindrom langka yang dikaitkan dengan virus corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang dokter di Prancis menyatakan seorang bocah berusia 9 tahun yang dinyatakan positif covid-19 meninggal oleh penyakit tersebut pada Jumat (15/5).
Saat ini, sambung Tedros, WHO telah mengembangkan definisi awal sindrom tersebut dengan sebutan "Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak-anak". Ia juga meminta tenaga medis untuk waspada dan memahami sindrom ini dengan lebih baik.
Namun, Tedros mengingatkan penting untuk mempelajari sindrom tersebut dengan hati-hati. Hal itu dilakukan untuk memahami penyebab dan mencari cara penanganannya.
Kepala Teknis Tim Tanggap Corona WHO Maria Van Kerkhove menegaskan keterkaitan antara sindrom tersebut dengan virus corona masih belum jelas. Pasalnya, beberapa anak yang menunjukkan gejala sindrom tersebut negatif covid-19.
"Kami ingin seluruh negara waspada akan hal ini," ujarnya.
Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan menilai kalaupun sindrom tersebut berhubungan dengan covid-19, penyebabnya bisa saja bukan virus corona baru. (sfr)