AS Usul Korut Berhenti Buat Senjata Nuklir dan Benahi Ekonomi

CNN Indonesia | Selasa, 26/05/2020 04:20 WIB
A woman walks past a television news screen showing file footage of a North Korean missile launch, at a railway station in Seoul on September 10, 2019. - North Korea on September 10 fired projectiles toward the sea, South Korea's military said, hours after Pyongyang said it is willing to hold working-level talks with the United States in late September. (Photo by Jung Yeon-je / AFP) Ilustrasi peluncuran rudal Korea Utara. (Jung Yeon-je / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Robert O'Brien, meminta Korea Utara menghentikan program nuklir jika ingin memiliki ekonomi yang hebat.

Permintaan itu disampaikan setelah Pemimpin Tertinggi Korut, Kim Jong-un, memimpin pertemuan militer pada Minggu (24/5) kemarin membahas penguatan pencegahan nuklir.


Rapat tersebut juga menjadi kesempatan pertama Kim Jong-un tampil ke publik setelah 'menghilang' sekitar 20 hari, yang berujung munculnya sejumlah spekulasi mengenai kesehatan pemimpin tertinggi Korea Utara itu.


"Akhirnya Korea Utara jika mereka ingin memasuki kembali dunia dan memiliki ekonomi yang hebat, kami berharap mereka melakukannya dan harus meninggalkan program nuklir," kata Robert O'Brien seperti dilansir Yonhap, Senin (25/5).

Robert O'Brien mengatakan AS berhasil menghindari konflik dengan Korea Utara dalam 3,5 tahun terakhir. Presiden AS Donald Trump juga disebut terlibat diplomasi pribadi yang baik dengan Kim Jong-un.

Dalam wawancara bersama CBS, O'Brien juga mengatakan AS akan terus mengawasi perkembangan yang terjadi di Korea Utara meski selama ini amat tertutup.

"Kami menyaksikan semua yang terjadi di Korea Utara baik dari sumber terbuka dan juga komunitas intelijen. Kami akan mengawasinya," O'Brien menegaskan.


Permintaan pertama mengenai pencegahan perang nuklir disampaikan AS ke Korea Utara pada 2018. Pembahasan mengenai nuklir belum diadakan AS dan Korea Utara lagi sejak Oktober di Swedia.

Belum terdapat jadwal pasti mengenai perundingan selanjutnya. Sebab, AS kini masih fokus menangani wabah virus corona yang telah menginfeksi 1,64 juta warga dan 97 ribu meninggal dunia. Trump juga kini bersiap menghadapi Pemilu 2020. (chr/ayp)

[Gambas:Video CNN]