Helikopter Perang AS Dilaporkan Terbang Rendah Usir Pedemo

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 12:13 WIB
Protesters are seen from the roof of the Minneapolis police 3rd Precinct building Thursday, May 28, 2020, in Minneapolis. Protests over the death of George Floyd, a black man who died in police custody Monday, broke out in Minneapolis for a third straight night. (AP Photo/Julio Cortez) Demonstrasi antirasisme protes kematian George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat. AP/Julio Cortez
Jakarta, CNN Indonesia -- Helikopter militer Amerika Serikat dilaporkan membubarkan demonstran antirasisme yang berunjuk rasa terkait kematian George Floyd di Washington DC pada Senin malam (1/6) waktu setempat.

Seperti dilaporkan CNN, pada Senin malam helikopter terlihat melakukan gerakan lambat, terbang sangat rendah di atas kerumunan demonstran. Helikopter tersebut diduga berupaya membubarkan para pengunjuk rasa.

Dikutip dari The Drive, helikpter UH-72 Lakota milik Angkatan Darat AS, serta helikopter UH-60 Black Hawks dilaporkan melakukan manuver dengan berputar sangat rendah di atas para pedemo dan menimbulkan suara bising.



Angin kencang yang ditimbulkan baling-baling membuat para demonstran berlari membubarkan diri.

Manuver tersebut dinilai sangat berbahaya, terutama jika sesuatu terjadi pada helikopter maka kerumunan orang di bawah bisa menjadi korban.

Kehadiran helikopter ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengerahkan unsur militer demi menegakkan ketertiban di AS yang belakangan rusuh akibat demonstrasi besar.

Insiden tersebut kini tengah diselidiki oleh Garda Nasional.


Juru Bicara Pentagon Letnan Kolonel Chris Mitchell mengatakan kepada CNN bahwa helikopter Lakota terbang untuk memantau posisi pasukan Garda Nasional yang dikerahkan untuk membantu pihak berwenang sipil mengawasi demonstrasi.

Dia menegaskan bahwa pasukan tersebut tidak terlibat dalam operasi penegakan hukum.

"Komandan Jenderal DCNG telah mememerintahkan penyelidikan atas tindakan aset penerbangan kami pada 1 Juni. Prioritas kami adalah keselamatan pasukan kami yang mendukung pihak berwenang sipil. Kami berdedikasi untuk memastikan keselamatan warga dan hak mereka untuk protes," ujar Garda Nasional Washington DC lewat akun Twitter resmi.



Sebelumnya Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon menyatakan sekitar 1.600 pasukan militer aktif telah dikerahkan ke Washington DC untuk membantu pihak berwenang sipil mengawasi demonstrasi.

Ribuan tentara itu dikerahkan dari markas di Fort Bragg dan Fort Drum ke ibu kota pada Senin malam.

"Pasukan berada pada status siaga tinggi tetapi tetap berada di bawah kewenangan Title X dan tidak terlibat dalam mendukung operasi pihak berwenang sipil," ujar Juru Bicara Pentagon, Jonathan Hoffman.

Demonstrasi anti-rasisme itu dipicu oleh kematian seorang warga kulit hitam asal Minneapolis pada awal pekan lalu, George Floyd, pada 25 Mei lalu.

Floyd meninggal setelah kehabisan napas usai lehernya ditekan oleh lutut seorang petugas kepolisian yang tengah menangkapnya.


Demonstrasi pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS, bahkan dunia. 

Semula protes berlangsung damai namun kerusuhan tidak terelakkan dalam unjuk rasa yang terjadi di beberapa wilayah di AS.

Meski Trump telah mengisyaratkan pengerahan pasukan militer, beberapa pejabat Pentagon mencoba menegaskan bahwa belum saatnya melibatkan campur tangan angkatan bersenjata dalam menangani demonstrasi saat ini. (dea)

[Gambas:Video CNN]