SBY Harap Trump Cari Solusi Terbaik Hadapi Gelombang Demo

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 20:30 WIB
Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto  saat bertakziah menyampaikan belasungkawa atas wafatnya istri SBY, Ani Yudhoyono,  Puri Cikeas, Bogor, 3 Juni 2019. CNN Indonesia/Hesti Rika Presiden Keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berharap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tidak keliru mengambil langkah untuk meredam aksi unjuk rasa yang dipicu kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd, akibat kekerasan polisi di Minneapolis.

Dalam artikel yang ditulis dan diunggah melalui laman Facebook, Rabu (3/6), SBY menyatakan saat ini adalah masa di mana Trump harus memperlihatkan kemampuan kepemimpinannya untuk membawa AS keluar dari pusaran masalah.

"Saat ini orang nomor satu di Amerika itu sedang menghadapi permasalahan yang pelik dan tantangan yang berat. Memang pemimpin sejati akan diuji apakah dalam menghadapi situasi krisis, dia bisa berpikir jernih serta bisa mengambil keputusan dan tindakan yang tepat," tulis SBY.


"Sangat mungkin Trump bisa ke luar dari krisis besar ini," lanjut SBY.


SBY menyatakan, AS saat ini dihadapkan dalam tiga masalah besar. Yakni jumlah kasus virus corona yang tinggi, perekonomian yang lesu, serta gejolak sosial akibat sikap rasisme dan kekerasan aparat penegak hukum terhadap warga sipil.

Ditambah lagi, lanjut SBY, AS akan memasuki masa pemilihan presiden dalam beberapa bulan ke depan.

Hal itu, kata SBY, akan menjadi sandungan bagi Trump untuk bisa memenangkan pilpres sebagai petahana, melawan pesaingnya dari Partai Demokrat, Joe Biden.

Menurut analisis SBY, dia menyatakan ada tiga kemungkinan cara Trump menyudahi pergolakan sosial di AS. Yakni pertama dengan cara persuasi dan penegakan hukum secara terpadu, dan bisa meredam aksi unjuk rasa.

"Dugaan saya, ini skenario terbaik yang diinginkan oleh pemerintahan Trump. Saya kira mayoritas rakyat Amerika juga menginginkan demikian. Skenario ini tak memerlukan konsesi apapun yang mesti diberikan oleh pemerintah," ujar SBY.

Langkah kedua, SBY menyatakan jika demonstrasi justru membesar, maka Trump bisa saja mengerahkan aparat penegak hukum dan militer (Garda Nasional) untuk meredam aksi unjuk rasa. Namun, akhirnya kedua belah pihak harus membuat kesepakatan tertentu guna mengakhiri pergolakan.

O'Fallon (Mo.) police Chief Tim Clothier, center, walks arm-in-arm with Ryan Staples, left, and Jalen Thompson, right, at the front of a march for George Floyd in OAksi solidaritas atas kematian pria kulit hitam di AS, George Floyd. (AP/David Carson)

"Saya membayangkan negosiasinya tentu tak mudah. Konsesi (deal) apa yang bisa dicapai juga tak semudah yang dibayangkan. Apalagi sulit diyakini bahwa Trump punya pikiran dan bersedia untuk melakukan kompromi dengan mereka yang menuntut keadilan itu," tulis SBY.

Terakhir, kata SBY, adalah langkah yang dinilai paling keras dan bakal berdampak terhadap pemerintahan Trump. Yakni pemulihan keamanan dengan tegas dan keras tanpa kompromi melalui aparat penegak hukum dan pengerahan tentara reguler.

SBY menyatakan khawatir jika Trump langsung menempuh jalan ketiga untuk menghentikan aksi unjuk rasa. Sebab menurut dia, Trump memperlihatkan kecenderungan tidak ragu menggunakan jalan yang dinilai keras, jika menganggap para kepala daerah dan gubernur tidak mampu mengatasi gejolak tersebut.

"Sebagai mantan Presiden dan seorang Jenderal, saya hanya khawatir kalau Trump salah hitung. Miscalculate. Maksud saya, bagaimana kalau justru perlawanan para pengunjuk rasa itu kian menguat dan membesar. Makin nekat," kata SBY.

"Yang berbahaya jika sikap 'keras' Trump berhadapan dengan sikap pengunjuk rasa yang makin militan. Benturan yang lebih besar pasti terjadi. Saya tidak tahu apakah rakyat Amerika punya militansi dan kenekatan yang tinggi manakala harus melawan pemerintah yang dinilai tidak adil. Seperti perlawanan rakyat yang terjadi di negara-negara berkembang," tulis SBY.

Floyd meninggal setelah mengalami tindak kekerasan oleh anggota kepolisian Minneapolis, dengan dalih melawan ketika ditangkap pada 25 Mei lalu.


Petugas kepolisian Minneapolis, Derek Chauvin, yang menekan leher Floyd dengan lutut saat penangkapan hingga tersangka kehabisan napas dijerat dengan sangkaan pembunuhan tingkat tiga.

Chauvin yang sempat ditahan di penjara Ramsey County dipindahkan ke Lapas Hennepin County, kemudian kini dibui di Lapas Negara Bagian Minnesota.

Tiga polisi lain yang terlibat penangkapan Floyd adalah Thomas Lane, J. Alexander Kueng dan Tou Thao.

Kasus tersebut saat ini ditangani langsung oleh Kepala Kejaksaan Minnesota, Keith Ellison. (ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]