Usai Kematian George Floyd, Puluhan Polisi AS Pilih Berhenti

CNN Indonesia | Kamis, 18/06/2020 08:32 WIB
PEARLAND, TEXAS - JUNE 09: Houston Police Chief Art Acevedo (3rd L) and another police officer raise their hands while walking in front of the casket containing the remains of George Floyd as it is brought by horse-drawn carriage (TOP R) in a funeral procession to Houston Memorial Gardens Cemetery for burial, on June 9, 2020 in Pearland, Texas. George Floyd died on May 25th when he was in Minneapolis police custody, sparking nationwide protests. A white police officer, Derek Chauvin, has been charged with second-degree murder, with the three other officers involved facing other charges.   Mario Tama/Getty Images/AFP Puluhan petugas polisi di empat daerah di AS mengundurkan diri imbas kekerasan yang menewaskan George Floyd. (Foto: AFP/MARIO TAMA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kematian George Floyd pada tiga pekan lalu di tangan aparat polisi kulit putih di Minneapolis, Amerika Serikat bukan hanya memicu gelombang protes di Negeri Paman Sam hingga ke penjuru dunia. Selain menuntut keadilan atas aksi diskriminasi, pedemo juga menyerukan reformasi di tubuh kepolisian.

Kini, departemen kepolisian Amerika Serikat menyatakan tengah menghadapi krisis lantaran para perwiranya memutuskan untuk berhenti jadi polisi.

Mengutip CNN, setidaknya empat daerah yang menerima pengajuan pengunduran diri polisi dalam jumlah yang tidak sedikit.


Kepolisian Minneapolis menerima pengunduran diri tujuh petugas sebagai imbas dari kematian Floyd. Juru bicara kepolisian Minneapolis, John Elder mengatakan jumlah tersebut belum termasuk lebih dari enam petugas yang dalam proses berhenti.

"Orang-orang berusaha untuk meninggalkan pekerjaan (polisi) karena berbagai alasan," ujar Elder.

Ia mengatakan petugas yang memilih berhenti mencakup aparat dari berbagai jabatan mulai dari petugas patroli hingga detektif. Tak hanya itu, jumlah ini juga belum termasuk empat orang polisi yang dipecat lantar terlibat dalam kematian Floyd.

Kasus kematian Rayshard Brooks, pria kulit hitam yang ditembak polisi di Atlanta juga memicu aksi pengunduran diri petugas keamanan.

Dalam sebuah pernyataan, polisi Atlanta mengatakan ada delapan petugas kepolisian yang mengajukan pengunduran diri pada Juni.

"Data personel kami menunjukkan bahwa kami telah menerima pengunduran diri dari dua hingga enam orang per bulan pada 2020," tulis pernyataan resmi tersebut.

Sejak kabar kematian Floyd, Yayasan Kepolisian Atlanta mengatakan telah menerima laporan pengunduran diri 19 petugas.

Sementara itu di Florida Selatan sekitar 10 petugas dari unit SWAT mengajukan pengunduran diri lantaran khawatir dengan keselamatan diri.

Para petugas yang mengundurkan diri mengaku tidak memiliki perlengkapan dan kurang terlatih. Disamping itu, mereka juga mengatakan keberatan dengan cara polisi yang mengunci leher saat menindak warga dan demonstran.

Dibandingkan daerah lain, Buffalo, New York mencatat banyak polisi dari tim tanggap darurat, sebanyak 57 petugas polisi. Jumlah ini belum termasuk dua polisi yang diberhentikan setelah terekam kamera mendorong demonstran lansia hingga jatuh ke tanah.

"Sekitar 57 polisi mengundurkan diri karena merasa jijik dengan perlakuan dua polisi yang hanya melaksanakan perintah," ujar Presiden Asosiasi Kepolisian Buffalo, John Evans.

Kantor wali kota Buffalo mengatakan 57 perwira yang mengundurkan diri tidak keluar dari kepolisian, tetapi membentuk tim tanggap darurat.

Menyoal kekerasan polisi terhadap warga, Presiden Donald Trump pada Selasa (16/6) menandatangani surat perintah beberapa langkah mengurangi kekerasan. Perintah eksekutif tersebut mencakup larangan mencekik, teknik seperti yang dilakukan personel kepolisian saat menahan Floyd sebelum tewas.

"Sebagai bagian dari proses baru ini, mencekik leher akan dilarang kecuali jika nyawa petugas terancam," ujar Trump seperti mengutip AFP.

(CNN/evn)

[Gambas:Video CNN]