Israel Kerahkan Badan Intelijen Lacak Pembawa Virus Corona

CNN Indonesia | Jumat, 26/06/2020 02:23 WIB
Israelis, wearing face masks and keeping at a safe distance from one another, take part in a Ilustrasi. Parlemen Israel menyetujui RUU kontroversial yang memungkinkan pemerintah mengerahkan badan keamanan intelijen Shin Bet, melacak penularan virus corona. (AFP/JACK GUEZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Parlemen Israel menyetujui rancangan undang-undang kontroversial yang memungkinkan pemerintah mengerahkan badan keamanan intelijen domestik, Shin Bet, melacak penularan virus corona (Covid-19) yang kembali meningkat di negara tersebut.

Pemerintah Israel memerintahkan Shin Bet menerapkan pemantauan menggunakan ponsel sebagai langkah mengantisipasi lonjakan penularan baru Covid-19.

Meski detail perintah itu dirahasiakan, sejumlah pejabat keamanan Israel mengatakan badan intelijen tersebut telah melacak orang pembawa virus atau carrier melalui ponsel mereka.


RUU ini sempat ditentang pengadilan tinggi Israel lantaran kebijakan seperti ini perlu diformalkan dalam bentuk hukum.

Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga sempat menunda proses perundang-undangan ini pada awal Juni lantaran tren kasus corona sudah terus menurun.

Namun, Netanyahu berubah pikiran melihat tren kasus baru corona meningkat dalam dua pekan terakhir.

"Penularan telah melampaui ambang batas 400 kasus setiap hari dan sayangnya mengindikasikan peningkatan yang berkelanjutan dalam kasus-kasus baru virus corona," kata Netanyahu jelang pemungutan suara RUU itu di parlemen pada Rabu (24/6).

Menurut Netanyahu pemerintah perlu membentuk sebuah aplikasi yang bisa digunakan warga yang dapat memberi tahu mereka jika tengah berdekatan dengan carrier corona.

Netanyahu menuturkan peran Shin Bet diperlukan sampai cara alternatif siap diterapkan. "Saya berharap kita tidak akan perlu menggunakan badan ini," ujar Netanyahu seperti dilansir AFP.

RUU ini baru memasuki satu kali pemungutan suara di parlemen dengan suara dukungan 45-32. Jajak pendapat kedua dan ketiga terhadap RUU itu rencananya akan dilakukan pekan depan.

Israel mendeteksi kasus pertama virus corona pada 21 Februari lalu. Hingga kini, Israel tercatat memiliki 21.730 kasus dengan 308 kematian dari total sembilan juta populasi penduduknya.

Sejumlah pihak menentang pelibatan Shin Bet dalam penanganan virus corona. Tehilla Shwartz Altshuler dari badan think thank Democracy Institute mengatakan pelacakan ponsel yang dilakukan Shin Bet terhadap warga sipil merupakan kebijakan yang cacat.

Altshuler menganggap kebijakan ini hanya memberikan masyarakat "rasa aman yang semu dan salah" dan merupakan bentuk pelanggaran privasi.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]