Penularan Corona Tinggi, Palestina Tutup Betlehem

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 28/06/2020 05:21 WIB
Palestinian protesters wave their national flags at sunset during a demonstration near the Erez crossing with Israel on September 4, 2018, in the northern Gaza Strip protesting against the United States decision to stop funding and backing the United Nations agency for Palestinian refugees(UNRWA).  / AFP PHOTO / MAHMUD HAMS Ilustrasi Palestina (AFP PHOTO / MAHMUD HAMS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Betlehem mengumumkan penutupan sementara kota yang berada di Palestina tersebut untuk menahan tingginya laju penularan virus corona di wilayah Tepi Barat, Sabtu (27/6).

Gubernur Bethlehem Kamil Hmeid lewat pernyataan resmi menyebut penutupan akan dilakukan mulai selama 48 jam akan dimulai Senin mulai pukul 06:00 (03:00 GMT).

Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan 67 kasus baru Covid-19 pada Sabtu. Sebanyak 33 kasus, berada di distrik Betlehem.


Total, Kementerian setempat mencatat 1.552 kasus virus di Tepi Barat dan dua kematian.

Penutupan itu menyusul penutupan kota Hebron dan Nablus di Tepi Barat pekan lalu. Kota Hebron ditutup selama lima hari, sementara Nablus selama 48 jam. Kedua kota ini berdekata dengan Betlehem. 

Penutupan dilakukan setelah kedua kota mencatat lonjakan besar dalam kasus virus corona baru. Seperti Tepi Barat, Israel juga telah mencatat lonjakan kasus coronavirus baru-baru ini.

Sementara itu, di Jalur Gaza, 72 orang dinyatakan positif terkena virus corona, dengan satu kematian. Jalur Gaza merupakan wilayah kantong Palestina yang diblokade oleh Israel.

Betlehem sebelumnya sempat mengalami lockdown pada Maret lalu. Saat itu, penutupan dilakukan setelah merekam kasus virus corona pertama di Tepi Barat.

Sekolah ditutup dan perjalanan yang tidak penting dan kegiatan bulan itu dilarang, sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi virus. Betlehem sendiri dipercaya umat Kristiani sebagai kota kelahiran Kristus.

(eks)

[Gambas:Video CNN]