China Disebut Steril Paksa Wanita Uighur untuk Tekan Populasi

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 02:57 WIB
This photo taken on June 5, 2019 shows Uighur men walking past the exit of an underpass after attending Eid al-Fitr prayers, marking the end of Ramadan, in Kashgar in China's northwest Xinjiang region. - China has enforced a massive security crackdown in Xinjiang, where more than one million ethnic Uighurs and other mostly Muslim minorities are believed to be held in a network of internment camps that Beijing describes as Ilustrasi keseharian Muslim Uighur di Xinjiang. (Greg Baker / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

China dilaporkan telah mensteril paksa perempuan Uighur untuk membatasi populasi etnis minoritas itu di wilayah Xinjiang barat, menurut laporan yang diterbitkan Senin, (29/6).

Seperti dikutip dari AFP, laporan tersebut didapat berdasarkan sejumlah data resmi, dokumen kebijakan, dan wawancara dengan perempuan etnis minoritas itu.

Hal ini mendorong sekelompok anggota parlemen internasional menyerukan kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melakukan penyelidikan terhadap kebijakan China di wilayah tersebut.


Langkah itu kemungkinan akan membuat geram Beijing. China berulang kali membantah tuduhan bahwa mereka memperlakukan masyarakat Uighur di Xinjiang semena-mena, dan menyebutnya sebagai tuduhan 'tidak berdasar'.

China dituduh menahan lebih dari satu juta warga Uighur dalam kamp-kamp pendidikan milik pemerintah.

Namun Tiongkok menggambarkan fasilitas tersebut sebagai pusat pelatihan kerja yang bertujuan menjauhkan warga dari terorisme setelah serangkaian kekerasan yang dituduhkan kepada kaum separatis.

Sebuah laporan dari peneliti Jerman, Adrian Zenz yang mengekspos kebijakan China di Xinjiang mengatakan perempuan Uighur diancam akan diinternir (diasingkan) di kamp-kamp jika menolak menggugurkan kehamilan.

Perempuan Uighur dilaporkan telah dipasangi IUD (alat kontrasepsi dalam rahim). Beberapa perempuan juga mengatakan, mereka dipaksa menerima operasi sterilisasi.

Mantan tahanan kamp mengatakan mereka diberi suntikan untuk menghentikan menstruasi atau menyebabkan pendarahan yang tidak biasa, sesuai dengan efek dari obat KB.

Dokumen pemerintah yang dipelajari Zenz menunjukkan wanita di beberapa komunitas minoritas pedesaan di wilayah tersebut sering menerima tes ginekologi dan tes kehamilan dua bulanan dari pejabat kesehatan setempat.

Zenz menemukan, pertumbuhan populasi di wilayah Xinjiang yang sebagian besar dihuni oleh etnis minoritas, turun di bawah rata-rata pertumbuhan di sebagian besar wilayah mayoritas Han antara 2017 dan 2018.

Aktivis Uighur mengatakan China menggunakan kamp-kamp pengasingan untuk melakukan kampanye pencucian otak besar-besaran yang bertujuan menghapuskan budaya dan identitas Islam negara itu yang berbeda.

Dalom laporannya, Zenz menulis China diperkirakan menggunakan kontrasepsi paksa di Xinjiang sebagai bagian dari 'rencana permainan dominasi etno-rasial yang lebih luas'.

"Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius apakah kebijakan Beijing di Xinjiang mewakili, dalam hal mendasar, apa yang mungkin dicirikan sebagai kampanye demografis genosida di bawah definisi PBB," tulis Zenz dalam laporan itu.

Aliansi Antar-Parlemen untuk China (IPAC) yaitu sekelompok anggota parlemen Amerika Utara, Eropa, dan Australia dari berbagai partai politik mengatakan bahwa mereka akan mendorong penyelidikan hukum guna memastikan kebenaran kejahatan kemanusiaan di Xinjiang.
 
IPAC dibentuk pada Juni dengan misi melawan 'tantangan yang ditimbulkan oleh perilaku saat ini dan ambisi masa depan Republik Rakyat China'.
 
Kelompok HAM Kongres Dunia Uighur mengatakan laporan itu menunjukkan 'elemen genosida dari kebijakan PKC (Partai Komunis China)' dan menyerukan tindakan internasional untuk menghadapi China.

 
Sementara Kementerian Luar Negeri China mengatakan tuduhan itu 'tidak berdasar' dan menunjukkan adanya 'motif tersembunyi'.

China juga membantah keras tudingan bahwa satu juta kaum Muslim Uighur berada dalam kamp tahanan milik pemerintah. China mengklaim semua kelompok etnis di negara itu diperlakukan setara.
 
Wilayah Xinjiang, yang berbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan, sudah bergolak sejak puluhan tahun lalu. Banyak warga Uighur yang mengklaim mereka ditekan oleh Beijing, dengan larangan memelihara janggut, memakai jilbab, serta mendistribusikan Alquran secara tidak sah.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]