Presiden Venezuela Desak Inggris Serahkan Cadangan Emas

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 14:04 WIB
Venezuela's President Nicolas Maduro gestures during a press conference with members of the foreign media at Miraflores palace in Caracas, on February 14, 2020. (Photo by YURI CORTEZ / AFP) Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. (AFP/YURI CORTEZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan pemimpin oposisi, Juan Guaido, saat ini tengah terlibat perselisihan baru terkait cadangan emas senilai USD1.8 miliar (sekitar Rp2.6 triliun) yang disimpan di Bank Sentral Inggris di London.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (2/7), Maduro dilaporkan membutuhkan emas itu untuk menopang anggaran negara yang tengah kepayahan menghadapi pandemi virus corona. Pemerintahan Maduro berniat menjual emas itu melalui perantaraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang kemudian hasil penjualannya akan dikirim ke Venezuela.

Akan tetapi, Guaido mendesak Bank Sentral Inggris untuk tidak memberikan emas itu kepada Maduro.

Guaido beralasan emas itu tidak sah dan didapat dari hasil korupsi. Selama empat hari sidang dengar pendapat di London, kuasa hukum yang mewakili Guaido beralasan kliennya adalah pemimpin sah Venezuela.

Di sisi lain, pemerintah Inggris mengakui Guaido yang merupakan ketua Majelis Nasional Venezuela sebagai presiden interim. Namun, mereka juga tetap mengakui Duta Besar Venezuela yang ditunjuk Maduro, Rocio Maneiro, di London.


Sementara itu, Venezuela juga tetap mengakui Duta Besar Inggris, Andrew Soper, yang ditugaskan di Caracas.

Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, mengakui Guaido sebagai presiden interim berdasarkan undang-undang dasar Venezuela. Guaido juga sempat bertemu dengan Perdana Menteri Boris Johnson dalam lawatan ke Eropa.

Akan tetapi, Inggris tidak memberikan persetujuan diplomatik terhadap utusan Guaido yang ditunjuk menjadi duta besar untuk Inggris.

Polemik itu membuat kedua belah pihak mengajukan gugatan di Inggris. Dalam beberapa hari mendatang, hakim yang menangani perkara itu, Nigel Teare, bakal membacakan keputusan siapa yang paling berhak atas emas tersebut.

Kuasa hukum yang ditunjuk Bank Sentral Venezuela, Leigh Crestohl, mengatakan Maduro adalah pemimpin Venezuela yang sah dan berhak atas emas tersebut.


"Jika ada pemerintahan yang secara de facto menguasai wilayah, dan diakui oleh negara lain dalam bentuk hubungan diplomatik, maka hal itu sama saja bentuk pengakuan formal," ujar Crestohl.

Akan tetapi, dukungan terhadap Guaido semakin melemah. Apalagi Maduro menguasai seluruh lembaga pemerintahan, termasuk militer.


Selain itu, Inggris juga tidak bisa menyerahkan begitu saja emas tersebut karena logam mulia itu dinilai menjadi daya tawar diplomatik bagi mereka dan kelompok oposisi Venezuela terhadap Maduro.

Inggris dan Amerika Serikat serta sejumlah negara lain memutuskan mendukung dan mengakui Maduro sebagai pemimpin Venezuela. Dia secara aklamasi menyatakan sebagai presiden interim pada awal 2019, setelah Maduro menyatakan menang dalam pemilihan umum.

Guaido tidak mengakui hasil pemilu dan menuduh Maduro memanipulasi hasil penghitungan suara.

Infografis Mereka di Putaran Krisis Venezuela


Venezuela tadinya termasuk negara sejahtera di kawasan Amerika Latin. Mereka mempunyai cadangan minyak cukup banyak yang menjadi tulang punggung perekonomian negara.

Kendati begitu, Venezuela masuk ke dalam pusaran krisis ekonomi hingga politik. Sejumlah kalangan menilai hal itu disebabkan oleh praktik korupsi yang merajalela dan salah urus yang akhirnya menghancurkan industri sektor energi.

Maduro menyalahkan krisis yang dialami negaranya akibat ulah Amerika Serikat. Dia menuduh AS menjatuhkan sanksi yang membuat Venezuela kesulitan menjual minyak bumi.

Sampai saat ini pemerintahan Maduro didukung oleh China, Rusia, Kuba, Iran dan Turki.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]