Inggris Tolak Serahkan Emas Venezuela ke Presiden Maduro

CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2020 09:27 WIB
FILE - In this March 12, 2020 file photo, Venezuelan President Nicolas Maduro gives a press conference at Miraflores presidential palace in Caracas, Venezuela. The Trump administration increased pressure on Venezuelan Maduro, Thursday, June 18, targeting a lifeline he's used for selling crude oil run by a close associate of the socialist leader who was recently jailed in Cape Verde. (AP Photo/Matias Delacroix, File) Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. (AP/Matias Delacroix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hakim pengadilan Inggris memutuskan menolak menyerahkan simpanan emas Venezuela senilai USD1.8 miliar (sekitar Rp2.6 triliun) yang berada di lemari besi bank sentral di London kepada Presiden Nicolas Maduro.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (3/7), hakim menyatakan pemerintah Inggris tidak mengakui Nicolas Maduro sebagai presiden Venezuela.

"Pemerintah Inggris dengan tegas mengakui (Juan) Guaido sebagai Presiden Venezuela. Maka dari itu tidak lagi mengakui Maduro sebagai presiden Venezuela," kata Hakim Nigel Teare saat membacakan amar putusan.

Guaido yang merupakan Ketua Majelis Nasional sekaligus mendeklarasikan sebagai presiden interim Venezuela mengajukan gugatan menolak klaim Maduro atas kepemilikan emas tersebut.


Kuasa hukum yang mewakili Maduro, Sarosh Zaiwalla, menyatakan kecewa terhadap keputusan tersebut.

"Pemerintahan Maduro mengendalikan seluruh Venezuela dan lembaga pemerintahan, dan hanya mereka yang berwenang mendistribusikan seluruh bantuan kemanusiaan dan pasokan medis yang diperlukan untuk melawan pandemi virus corona," kata Zaiwalla

"Hal itu harus mengalami penundaan dan nyawa penduduk Venezuela kini terancam," ujar Zaiwalla.

Maduro menyatakan akan menjual emas itu untuk membeli bahan makanan, obat-obatan dan alat-alat medis untuk menghadapi pandemi virus corona.

Di sisi lain, Guaido menyambut baik putusan hakim tersebut untuk melindungi aset Venezuela. Dia juga tengah menggugat status kepemilikan kilang pengolahan minyak milik Venezuela, Citgo, yang berada di Amerika Serikat.

"Hal yang pertama adalah emas itu terlindung dari tangan diktator," kata Guaido.


Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Venezuela, Jorge Arreaza, menyatakan membatalkan perintah deportasi terhadap Duta Besar Uni Eropa, Brilhante Pedrosa.

Mulanya Maduro memerintahkan mengusir Pedrosa karena Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat Venezuela. Namun, Arreaza dan Kepala Hubungan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, menyatakan sudah mengklarifikasi permasalahan itu melalui sambungan telepon.

Inggris dan Amerika Serikat serta sejumlah negara lain memutuskan mendukung dan mengakui Maduro sebagai pemimpin Venezuela. Dia secara aklamasi menyatakan sebagai presiden interim pada awal 2019, setelah Maduro menyatakan menang dalam pemilihan umum.

Guaido tidak mengakui hasil pemilu dan menuduh Maduro memanipulasi hasil penghitungan suara.

Venezuela tadinya termasuk negara sejahtera di kawasan Amerika Latin. Mereka mempunyai cadangan minyak cukup banyak yang menjadi tulang punggung perekonomian negara.

Kendati begitu, Venezuela masuk ke dalam pusaran krisis ekonomi hingga politik. Sejumlah kalangan menilai hal itu disebabkan oleh praktik korupsi yang merajalela dan salah urus yang akhirnya menghancurkan industri sektor energi.

Infografis Mereka di Putaran Krisis Venezuela


Maduro menyalahkan krisis yang dialami negaranya akibat ulah Amerika Serikat. Dia menuduh AS menjatuhkan sanksi yang membuat Venezuela kesulitan menjual minyak bumi.

Sampai saat ini pemerintahan Maduro didukung oleh China, Rusia, Kuba, Iran dan Turki.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]