Kilas Internasional

Laporan Pertama Corona Bukan dari China hingga Iran Murka

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 06:26 WIB
(FILES) This file photo taken on February 24, 2020 shows the logo of the World Health Organization (WHO) at their headquarters in Geneva. - President Donald Trump threatened on May 18 to permanently freeze US funding to the World Health Organization unless Ilustrasi logo WHO. (AFP/FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai belahan dunia pada akhir pekan kemarin. Mulai dari WHO ungkap laporan pertama virus corona bukan dari China hingga Iran siapkan balasan atas kebakaran di situs nuklir.

1. WHO Ungkap Laporan Pertama Virus Corona Bukan dari China

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa yang melaporkan pertama kali kasus virus corona bukan Pemerintah China, melainkan lembaganya sendiri.
Hal itu diketahui setelah WHO memperbarui laporannya tentang tahapan awal munculnya pandemi Covid-19.


Seperti dikutip dari AFP, Sabtu (4/7), WHO mengaku pertama kali mendapatkan informasi dari kantor perwakilan mereka di China. Ketika itu kasus pertama pneumonia dilaporkan di Wuhan.

Pada 9 April, organisasi itu menerbitkan rentang waktu awal wabah untuk menjawab kritik atas respons terhadap penanganan corona.

2. Tak Pakai Standar WHO, Angka Kematian Corona di Rusia Rendah

Rusia mengungkapkan alasan rendahnya angka kematian akibat virus corona di negara itu. Yakni, tak menghitung orang yang meninggal akibat penyakit penyerta meski memang positif Covid-19.

Rusia hingga Sabtu (4/7) memiliki 10.027 kematian karena Covid-19. Jika dibandingkan dengan jumlah kasus positif yang mencapai 674.515, angka kematian bisa dibilang rendah.

Bahkan Inggris saja yang memiliki jumlah kasus corona lebih sedikit, yakni 284.276, mencatatkan 44.131 kematian. Rusia saat ini menjadi negara dengan kasus corona terbanyak ketiga di dunia, setelah Brasil dan Amerika Serikat.

3. Fasilitas Nuklir Terbakar, Iran Siapkan Serangan Balasan

Iran mengancam akan melancarkan balasan terhadap siapa saja yang melakukan serangan siber pada situs nuklir mereka.

Hal ini disampaikan usai kebakaran dilaporkan terjadi di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Provinsi Isfahan yang menjadi situs nuklir utama Iran pada
Kamis (2/7). Diduga akibat sabotase siber.

"Merespons serangan siber adalah bagian dari wewenang pertahanan negara. Jika terbukti bahwa negara ini menjadi target serangan siber, maka kami akan membalas," ujar Kepala Badan Pertahanan Sipil Iran, Gholamreza Jalali seperti dikutip dari AFP, Sabtu(4/7).

(dea)

[Gambas:Video CNN]