Deretan Kontroversi China yang Dinilai Tak Jujur soal Corona

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 12:05 WIB
In this photo released by China's Xinhua News Agency, medical workers bow their heads during a national moment of mourning for victims of coronavirus in Wuhan in central China's Hubei Province, Saturday, April 4, 2020. With air raid sirens wailing and flags at half-staff, China on Saturday held a three-minute nationwide moment of reflection to honor those who have died in the coronavirus outbreak, especially Ilustrasi. MengheningkancCipta nasional untuk korban virus corona di China. (Cai Yang/Xinhua via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tuduhan China tidak jujur soal penyebaran virus corona (Covid-19) yang kini telah menginfeksi lebih dari 13,2 juta orang di dunia lagi-lagi muncul ke publik.

Ahli virologi dan imunologi China, Li Meng Yan, kabur ke Amerika Serikat dan menuduh negaranya menutupi informasi soal virus serupa SARS itu sejak awal.

Ilmuwan yang bekerja di Hong Kong School of Public Health itu meyakini pemerintah China tahu tentang virus corona jauh sebelum diungkap ke publik.


Demi bisa membeberkan rahasia China soal corona ini, Li telah merencanakan pelariannya ke AS jauh-jauh hari. Ia mengaku takut dipenjara atau lebih buruk lagi menjadi orang hilang jika menetap di China setelah membeberkan sisi gelap pemerintahan Presiden Xi Jinping soal penanganan corona.

Berikut deretan kontroversi China penyebaran virus corona.

Kasus Awal di Wuhan

Li bukan orang China pertama yang meragukan transparansi pemerintahan Xi Jinping dalam penanganan corona.

Seorang penasihat kesehatan pemerintah China, Dr Zhong Nanshan, mengakui bahwa pemerintah Negeri Tirai Bambu, terutama pihak berwenang Wuhan tidak jujur soal awal kemunculan virus corona di kota tersebut.

Zhong merupakan ketua sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli medis yang ditunjuk Komisi Kesehatan Nasional (NHC) untuk menyelidiki kemunculan Covid-19 di masa awal penyebaran.

Dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada Mei lalu, Zhong mengatakan pihak berwenang Kota Wuhan, Provinsi Hubei, tak mengungkap rincian detail terkait keberadaan virus tersebut sepenuhnya.

Kota Wuhan merupakan tempat virus pertama kali terdeteksi sekitar Desember 2019 lalu sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Zhong bersama timnya mengunjungi Wuhan pada 18 Januari untuk memulai penyelidikan terkait virus yang saat itu masih misterius dan disebut virus Wuhan.

Beberapa hari sebelum pergi ke Wuhan, Zhong mengaku menerima banyak telepon dari dokter dan mantan mahasiswa yang memperingatkannya bahwa situasi di sana lebih buruk daripada yang dilaporkan pemerintah kota.

Zhong mengatakan dia menjadi sangat penasaran ketika pihak berwenang Wuhan melaporkan kasus Covid-19 yang saat itu masih disebut pneunomia misterius hanya berjumlah 41 pasien selama lebih dari 10 hari berturut-turut. Padahal, penularan kasus yang sama telah terdeteksi dan meluas ke luar China.

Asal Usul Corona di Wuhan

Sejak awal kemunculan corona, pihak berwenang China selalu menyebutkan bahwa virus tersebut pertama kali muncul dari sebuah pasar tradisional di Wuhan yang menjual binatang liar untuk dikonsumsi.

Pejabat kesehatan China mengklaim virus corona disebarkan oleh kelelawar dan ular. Meski begitu, pemerintah China tidak pernah secara terbuka melakukan dan memaparkan penyelidikan khusus terkait awal kemunculan Covid-19 di Wuhan.

Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Sementara itu, sejumlah pihak menuding bahwa virus corona berasal dari suatu kecelakaan penelitian sebuah laboratorium virologi di Wuhan.

Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang vokal meyakini bawah virus corona muncul dari salah satu lab di Wuhan. Washington bahkan menyalahkan China dan ikut menuding Negeri Tirai Bambu menutupi awal kemunculan virus tersebut.

China dan laboratorium virologi di Wuhan berulang kali membantah tudingan AS tersebut.

Jurnalis Pelapor Corona Hilang

Selain menutupi informasi, pemerintah China juga dianggap berupaya membungkam orang-orang di dalam negerinya yang berupaya menyebarkan informasi soal penanganan corona ke publik secara luas.

Li Zehua, seorang jurnalis warga yang kerap meliput perkembangan corona di Kota Wuhan melalui video di akun YouTubenya, sempat dinyatakan hilang selama dua bulan sekitar Februari lalu.

Li kembali muncul ke publik pada akhir April lalu melalui video terbaru di akun YouTubenya. Ia mengaku ditahan pihak berwenang dan dikirim ke pusat karantina di Wuhan.

Selain Li, Chen Qiushi, seorang jurnalis warga di Wuhan juga hilang pada Januari lalu setelah sering mnyampaikan laporan terkait pekrembangan penyebaran virus di Wuhan melalui akun media sosialnya.


Dokter Pengungkap Corona Meninggal

Tak hanya jurnalis, China juga tak segan membungkam para dokter dan ilmuwan yang berupaya membeberkan informasi tentang corona di awal kemunculannya.

Li Wenliang bersama delapan dokter lainnya di Wuhan sempat ditangkap karena membocorkan informasi virus corona di media sosial sekitar Desember 2019 lalu.

Li bersama rekan-rekannya itu berupaya memperingatkan masyarakat bahkan pemerintah terkait potensi merebaknya virus serupa SARS yang saat itu masih misterius.

Alih-alih diapresiasi, Li bersama tujuh dokter lainnya dihukum oleh kepolisian Wuhan karena membocorkan informasi tersebut ke media sosial. Meski begitu, tak lama Li dan tujuh koleganya itu dibebaskan.

Tak lama dari situ, Li dinyatakan meninggal dunia pada Februari lalu karena terinfeksi virus corona.

Li, 34, meninggal di Rumah Sakit Pusat Wuhan Jumat pagi waktu setempat. Li mendapat perawatan di rumah sakit pada 12 Januari setelah tertular virus dari pasiennya. Dia positif terinfeksi virus corona pada 1 Februari.

Kematian Li sempat memicu kritikan dan kecaman masyarakat luas terhadap pemerintah China.

Dokter di Wuhan Dibungkam

Sejumlah dokter di RS Pusat Wuhan membeberkan bagaimana mereka dibungkam China karena corona. Salah seorang dokter menyebut ada pembatasan informasi oleh pemerintah dan penyebaran informasi yang keliru.

Kepala Penyakit Menular di Pusat Pengendalian Penyakit di Wuhan, Wang Wenyong, bahkan sempat meminta RS untuk memalsukan informasi  pasien corona. Mereka memerintahkan agar diagnosis dalam laporan diganti dengan jenis penyakit lain.

Seorang kepala departemen RS mengungkapkan, ia diminta untuk mengawasi stafnya agar tidak mengungkapkan "informasi rahasia" kepada publik, termasuk rekan mereka. Petugas medis bahkan tidak dapat melaporkan jika mereka jatuh sakit.

Pekerja di RS dilarang membicarakan virus corona, atau mengirim pesan teks, foto, atau apa pun yang mungkin meninggalkan jejak.

Para dokter yang diwawancara Caixin menyebut, virus corona diduga bersumber dari pasar ikan di selatan China.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]