Jepang Tuduh China Tingkatkan Pengaruh Saat Pandemi Corona

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 21:10 WIB
This photo taken on February 3, 2020 shows a medical staff member (L) being disinfected by a colleague before leaving a quarantine zone converted from a hotel in Wuhan, the epicentre of the new coronavirus outbreak, in China's central Hubei province. - The number of total infections in China's coronavirus outbreak has passed 20,400 nationwide with 3,235 new cases confirmed, the National Health Commission said on February 4. (Photo by STR / AFP) / China OUT Ilustrasi virus corona di China. (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jepang melalui buku putih pertahanan menuduh China berupaya meningkatkan pengaruh global selama pandemi virus corona.

Jepang menyatakan bahwa Beijing telah mengirimkan para profesional medis dan memberikan bantuan seperti masker ke negara-negara lain dalam menghadapi pandemi demi kepentingannya sendiri.
 
Seperti dikutip dari AFP Selasa (14/7), dalam buku putih pertahanan disebutkan bahwa China telah 'mengambil keuntungan' dari bantuan yang ia berikan ke negara-negara lain dalam upaya untuk memajukan kepentingan politik dan ekonominya.

Beijing juga disebut terlibat dalam propaganda seperti 'menyebarkan disinformasi' di tengah kerusuhan sosial dan kebingungan yang dipicu oleh pandemi.
 
Buku putih tersebut juga menyatakan pemerintah Jepang mengkritik Beijing karena 'tanpa henti' berusaha merusak administrasi Tokyo atas Kepulauan Senkaku di Laut China Timur.
 
Mengacu pada persengketaan Kepulauan Senkaku, buku putih itu menegur China atas upaya gigihnya untuk 'mengubah status quo' secara sepihak di Laut China Timur.
 
"Meskipun ada protes dari negara kami, kapal resmi China berulang kali menyusup ke perairan teritorial kami di sekitar Kepulauan Senkaku. Ini adalah pertama kalinya sebuah buku putih pertahanan mencirikan tindakan China di sekitar pulau sebagai (tindakan) tanpa henti," kata isi buku tersebut.
 



Buku putih itu juga merujuk pada penciptaan dua distrik administratif sepihak yang dilakukan China di Laut China Selatan, di mana Beijing memiliki klaim yang tumpang tindih dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan.
 
Kedua distrik tersebut bernama Xisha dan Nansha yang masing-masing menggunakan nama China untuk Kepulauan Paracel dan Spratly yang disengketakan.
 
China melakukan militerisasi pos-pos di dua distrik tersebut dan menggunakan cara non-militer untuk memaksa pergeseran status quo regional. Sikap ini memantik kemarahan negara penuntut lainnya, terutama karena negara-negara tersebut sedang fokus menghadapi pandemi Covid-19.
 
Dilansir dari Japan Times, komunitas internasional memiliki 'keprihatinan keamanan yang kuat' tentang tren militer China seperti 'tingkat pertumbuhan anggaran pertahanannya yang tinggi' dan 'kurangnya transparansi dalam urusan militernya'.
 


Dokumen buku putih itu juga memperingatkan tentang ancaman Korea Utara yang dipersenjatai nuklir. Dokumen itu mengatakan Korea Utara terus memajukan pengembangan rudal balistik pada 'kecepatan yang sangat cepat', hal ini digambarkan sebagai sebuah situasi yang menimbulkan 'ancaman besar bagi keamanan Jepang'.
 
Mengutip kemungkinan adanya rudal Scud-ER dan Nodong yang membawa senjata nuklir, dokumen itu menyebutkan bahwa Pyongyang tampaknya memiliki kemampuan menyerang Tokyo. Korea Utara kemungkinan juga sedang mengembangkan rudal balistik.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]