Analisis

Masjid Hagia Sophia, Politik Erdogan dan Nabi Muhammad

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 24/07/2020 18:06 WIB
Rektor UII, Komaruddin Hidayat menilai langkah Turki menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid menyalahi ajaran Nabi Muhammad. Sekitar 1.000 orang mengikuti salat Jumat perdana di Hagia Sophia. (AP Photo/Emrah Gurel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu situs bersejarah Hagia Sophia di Istanbul, Turki, menggelar salat Jumat perdana pada Jumat (24/7) setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengembalikan fungsi bangunan itu yang selama ini merupakan museum menjadi masjid.

Salat Jumat hari ini merupakan yang perdana sejak 86 terakhir setelah presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk, mengubah status Hagia Sofia yang merupakan masjid di zaman Ottoman Turki menjadi museum.

Meski Hagia Sophia pernah difungsikan sebagai masjid selama 478 tahun sejak 1453, langkah Erdogan kali ini dikritik banyak pihak mulai dari negara Barat seperti Amerika Serikat, Yunani, Rusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga Paus Fransiskus dan komunitas Gereja Kristen Ortodoks.


Sebagian besar umat Muslim di Turki bahkan dunia menyambut baik langkah Erdogan ini, terutama kaum Muslim konservatif. Mereka, tak terkecuali Erdogan yang merupakan lulusan "pesantren" Imam Hatip High School, menganggap penetapan Hagia Sophia sebagai masjid menunjukkan kekuatan Islam.

Erdogan menganggap mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid menandai era sekuler di Turki berakhir.

Namun, tak sedikit pula Muslim liberal menyayangkan perubahan status Hagia Sophia kembali menjadi masjid.

Menurut Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Komaruddin Hidayat, perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid tidak berhubungan dengan legitimasi pengaruh Islam di Turki bahkan kawasan.

The Byzantine-era Hagia Sophia, one of Istanbul's main tourist attractions in the historic Sultanahmet district of Istanbul, is seen, top center, Saturday, July 11, 2020. Turkey's President Recep Tayyip Erdogan formally reconverted Hagia Sophia into a mosque and declared it open for Muslim worship, hours after a high court annulled a 1934 decision that had made the religious landmark a museum.The decision sparked deep dismay among Orthodox Christians. Originally a cathedral, Hagia Sophia was turned into a mosque after Istanbul's conquest by the Ottoman Empire but had been a museum for the last 86 years, drawing millions of tourists annually. (AP Photo/Emrah Gurel)Hagia Sophia. (AP Photo/Emrah Gurel)

Doktor Ilmu Filsafat Barat dari Universitas Teknik Timur Tengah, Turki, itu menganggap langkah perubahan status Hagia Sophia ini hanya lah kepentingan politik Erdogan saja.

"Tidak semata-mata perubahan Hagia Sophia menjadi masjid menandakan Islam berjaya. Di Timur Tengah memang cenderung ada pemimpin negara yang ingin tampil sebagai pemimpin umat Muslim dunia. Langkah ini bisa jadi langkah Turki yang ining menunjukkan bahwa mereka leader of the Muslim world," kata Komaruddin kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (24/7).

Komaruddin mengatakan tidak relevan juga jika Erdogan mendasari keputusannya tersebut untuk menambah kapasitas ibadah umat Muslim di Istanbul. Ia menganggap dari segi fungsi tempat ibadah, perubahan Hagia Sophia sebagai masjid tidak lah mendesak karena di Istanbul banyak sekali masjid.

"Bahkan di sebrang Hagia Sophia berdiri masjid indah sekali dan besar dan masih sanggup menampung banyak jamaah. Jadi ini memang kepentingan dalam negeri Turki saja," ujar Komaruddin.

"Beda cerita dengan negara-negara Eropa. Mereka butuh masjid karena sedikit sekali masjid karena itu tidak heran kalau banyak gereja dibeli untuk diubah jadi masjid. Lagi pula, gereja di sana banyak bangunan biasa jadi tidak punya nilai historis dan politis, beda dengan di Istanbul," paparnya menambahkan.

Melenceng dari Alquran dan Ajaran Nabi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2