Jimmy Lai, Taipan 'Pemberontak' yang Dimusuhi China

AFP, CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 15:31 WIB
Pengusaha Jimmy Lai menyatakan sudah memperkirakan dia bakal ditangkap aparat Hong Kong dengan UU Keamanan Nasional disahkan China. Pengusaha dan aktivis pro demokrasi Hong Kong, Jimmy Lai. (AP/Vincent Yu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penangkapan taipan pemilik media sekaligus tokoh pro-demokrasi Hong Kong, Jimmy Lai, pada Senin (10/8), dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional baru yang diberlakukan China mengejutkan para pengamat, termasuk kantor media massa milik Lai.

Dua pekan sebelum UU itu diberlakukan pada 30 Juni, Lai mengatakan kepada AFP bahwa ia tahu akan menjadi target utama dan siap dipenjara.

"Jika (hari) itu datang, saya akan memiliki kesempatan untuk membaca buku-buku yang belum saya baca. Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan adalah menjadi positif," ujar Lai.


Seperti banyak taipan Hong Kong lainnya, Lai mengubah jalan hidupnya perlahan-lahan dari lembah kemiskinan.

Dia lahir di Guangdong, China, dari keluarga kaya. Namun, keluarganya kehilangan semua harta ketika partai komunis mengambil alih kekuasaan pada 1949.

Diselundupkan ke Hong Kong di usia 12 tahun, Lai bekerja keras di sebuah toko, ia mempelajari bahasa Inggris secara otodidak dan akhirnya mendirikan perusahaan pakaian yang sangat sukses, Giordano.

Pada 1989 ketika China mengirim tank untuk membubarkan aksi protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen Beijing, Lai mendukung aksi protes tersebut.

Tidak lama setelah itu, dia mendirikan media massa pertamanya dan menulis kolom secara teratur untuk mengkritik para pemimpin senior China.

Setelah itu Lai mulai menanamkan uangnya ke bisnis media. Ketika ditanya mengapa dia tidak berdiam diri saja dan menikmati kekayaan seperti taipan Hong Kong lainnya, Lai mengaku mungkin ia terlahir sebagai pemberontak.

"Mungkin saya terlahir sebagai pemberontak, mungkin saya seseorang yang membutuhkan banyak makna untuk menjalani hidup saya selain uang," ujarnya.

Bersama dengan puluhan aktivis pro-demokrasi, dia menghadapi tuntutan terpisah baik karena ikut serta dalam aksi protes di Hong Kong pada tahun lalu dan karena menentang polisi menghadiri acara yang dilarang di Tiananmen pada 4 Juni.

Sebelum UU Keamanan Nasional disahkan, media pemerintah China sering menuduhnya berkolusi dengan pihak asing, terutama setelah dia bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, dan Wakil Presiden AS, Mike Pence, pada tahun lalu.

Selama wawancara dengan AFP, Lai menggambarkan UU Keamanan sebagai "lonceng kematian untuk Hong Kong".

"Ini akan menggantikan atau menghancurkan supremasi hukum kami dan menghancurkan status keuangan internasional kami," ujarnya.

Selain itu, Lai juga mengkhawatirkan keselamatan jurnalis yang bekerja di medianya.

"Apapun yang kami tulis, apapun yang kami katakan bisa (dianggap) subversi dan hasutan," kata Lai.

Dua medianya, surat kabar Apple Daily dan majalah Next, secara terbuka mendukung aksi protes demokrasi di Hong Kong.

Selama bertahun-tahun, kedua media itu tidak menampilkan iklan karena mereka menghindari kemarahan Beijing. Selama itu pula Lai menambal kerugian dengan modal sendiri.

Meski demikian, medianya populer. Medianya menawarkan campuran berita dari selebriti, skandal seks, dan investigasi asli seperti serial terbaru yang mengungkap bagaimana rumah beberapa petugas polisi senior melanggar aturan bangunan.

Lai mengatakan dia bertekad untuk tetap tinggal di Hong Kong bahkan setelah UU Keamanan diberlakukan.

Bagi penduduk Hong Kong, Lai adalah pahlawan. Lai dikenal garang dan mandiri, dia juga satu-satunya taipan yang bersedia mengkritik Beijing. Namun, menurut media pemerintah China, Lai adalah "pengkhianat", "tangan hitam" terbesar di balik aksi protes besar pro-demokrasi di Hong Kong tahun lalu dan kepala baru "Geng Empat" yang berkonspirasi dengan negara asing untuk merusak tanah air.

[Gambas:Video CNN]

"Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah bertahan, tidak kehilangan semangat atau harapan. Dan berpikir bahwa yang benar pada akhirnya akan menang," ujar Lai.

Ketika ditanya mengapa dia mempertaruhkan kekayaan dan kebebasannya dengan mengkritik Beijing dan secara terbuka mendukung gerakan demokrasi Hong Kong, dia menjawab "saya pembuat onar".

"Saya datang ke sini tanpa punya apa-apa, kebebasan di tempat ini telah memberi saya segalanya. Mungkin inilah saatnya saya membayar kembali kebebasan itu dengan memperjuangkannya," ujar Lai.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]