Hakim AS Panggil Putra Mahkota Saudi soal Upaya Pembunuhan

CNN Indonesia | Rabu, 12/08/2020 16:05 WIB
Pengadilan Distrik Columbia, AS, meminta Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad Bin Salman, hadir untuk diperiksa terkait laporan upaya pembunuhan. Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman. (OSCAR DEL POZO / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengadilan Distrik Columbia, Amerika Serikat, menerbitkan surat panggilan kepada Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman, untuk diperiksa dalam sidang terkait laporan upaya pembunuhan terhadap mantan pejabat badan intelijen Saudi, Saad Al-Jabri, yang saat ini bersembunyi di Kanada.

Seperti dilansir Middle East Monitor, Rabu (12/8), pengadilan juga memanggil 13 pejabat Saudi lainnya dalam surat itu, termasuk Wakil Badan Intelijen Arab Saudi, Ahmad Al-Asiri, dan mantan penasihat kerajaan Arab Saudi, Saud Al-Qahtani. Keduanya dilaporkan terlibat dalam dugaan pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi.

Menurut laporan yang didaftarkan Al-Jabri di pengadilan Washington, Bin Salman mengirim tim pembunuh yang dijuluki "Pasukan Harimau" ke Kanada untuk menghabisinya. Mereka adalah tim yang turut membunuh Khashoggi di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki.


Al-Jabri mengatakan, tim pembunuh itu datang ke Kanada menggunakan visa wisata dan satu orang menggunakan visa diplomatik, dua pekan setelah pembunuhan Khashoggi. Namun, mereka ditolak masuk dan dideportasi.

Saat ini Al-Jabri dilaporkan bermukim di lokasi rahasia di Toronto, dengan pengawalan aparat keamanan setempat.

Menurut sumber mantan petinggi badan intelijen AS, mereka sudah mengendus rencana itu karena Pangeran Salman merasa Al-Jabri membahayakan kekuasaan sang ayah.

Dalam berkas itu, Al-Jabri menyatakan sembilan bulan sebelum tim pembunuh itu tiba di Kanada, Badan Penyelidik Federal AS (FBI) sudah memperingatkan anak lelakinya, Khalid. Saat itu agen FBI menjemput Khalid di bandara Logan, Boston, Massachusetts. Dia lantas diberitahu bahwa nyawanya dan keluarganya dalam bahaya karena bin Salman memburu mereka dan diminta berhati-hati

Al-Jabri merupakan tangan kanan Pangeran Muhammad bin Nayef. Keduanya menjalin hubungan erat dengan intelijen AS dan dilaporkan bahu-membahu memerangi terorisme setelah peristiwa serangan ke gedung World Trade Center di New York pada 11 September 2001.

Mereka disebut aktif bertukar informasi tentang jaringan organisasi teroris Al-Qaidah, dan menggagalkan serangkaian upaya serangan teror.

Akan tetapi, bin Nayef yang saat itu digadang menjadi pengganti Raja Salman didepak dari jalur suksesi oleh Bin Salman pada 2017. Dia juga ditetapkan sebagai tahanan rumah.

Al-Jabri yang merasa dalam bahaya kabur ke Turki pada pertengahan 2017. Namun, dia lantas pergi ke Kanada. Dia terpaksa meninggalkan dua anaknya di Saudi, Sarah dan Umar.

Saad Al-Jabri dilaporkan memegang banyak rahasia di lingkup kerajaan, termasuk rahasia Bin Salman, dan dinilai membahayakan jika dibiarkan.

Perebutan kekuasaan di tubuh keluarga kerajaan Arab Saudi terjadi antara Pangeran bin Salman dan sejumlah saudara ayahnya. Bahkan, bin Salman sempat memenjarakan sejumlah anggota kerajaan di hotel dengan tuduhan korupsi, sampai mereka berjanji akan setia terhadapnya.

Selain itu, Pangeran Bin Salman juga bersikap agresif dalam membungkam pihak-pihak yang mengkritik kerajaan, salah satunya mendiang Jamal Khashoggi.

(Middle East Monitor/ayp)

[Gambas:Video CNN]