Pemerintah Iran Diduga Rekayasa Data Jumlah Kasus Covid-19

Associated Press, CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2020 10:32 WIB
Pemerintah Iran diduga merekayasa data jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) untuk alasan politik dan keamanan. Seorang petugas kesehatan di Irak sedang menyemprotkan disinfektan di angkutan umum untuk mencegah penularan Covid-19. (AP/Alireza Mohammadi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Iran diduga merekayasa data jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) untuk alasan politik dan keamanan.

Hal itu diungkap oleh ahli epidemiologi Iran yang termasuk dalam satuan tugas penanganan Covid-19, Mohammad Reza Mahboobfar.

"Pemerintah merahasiakannya karena alasan politik dan keamanan dan hanya memberikan statistik yang direkayasa kepada publik," ujar Reza dalam laporan surat kabar Jahane Sanat, yang dikutip Associated Press, Kamis (13/8).


Dalam laporan itu Reza mengatakan angka resmi kasus positif virus corona dan kematian di negara itu hanya mencapai 5 persen dari jumlah sebenarnya.

Reza yang bekerja pada satgas anti-virus corona pemerintah mengatakan jumlah sebenarnya dari kasus positif dan kematian Covid-19 di Iran bisa 20 kali lipat lebih banyak dari jumlah yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan.

Dia juga mengatakan bahwa virus itu terdeteksi di Iran sebulan lebih awal, ketika pihak berwenang setempat mengumumkan kasus pertama pada 19 Februari. Menurut Reza, pemerintah menahan pengumuman itu sampai setelah peringatan Revolusi Islam 1979 dan pemilihan parlemen pada awal Januari.

Dia juga mengkritik upaya pengujian dan memperingatkan wabah baru pada bulan depan karena universitas mengadakan ujian masuk dan warga memperingati hari libur besar Syiah.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Sima Sadat Lari, membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa Reza tidak berperan dalam kampanye anti-virus corona pemerintah. Mengutip pernyataannya, kantor berita resmi IRNA mengatakan bahwa pihak kementerian telah memberikan angka-angka kasus positif dan kematian dengan "transparan".

"Kementerian Kesehatan bukanlah badan politik dan kesehatan rakyat adalah prioritas utama," ujar Sima.

Sementara itu, surat kabar yang menerbitkan pernyataan Reza, Jahane Sanat, ditutup oleh pemerintah Iran pada Senin. Hal itu diungkap oleh Pemimpin Redaksi Jahane Sanat, Mohammad Reza Sadi, kepada IRNA.

Insert Artikel - Waspada Virus Corona

Pemerintah Iran menuai kecaman keras sejak pandemi melanda karena enggan memberlakukan pembatasan ketat.

Hingga kini, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan total hampir 330 ribu kasus dan 18.616 kematian.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]