Kanselir Jerman Sempat Jenguk Tokoh Oposisi Rusia di RS

Moscow Times, CNN Indonesia | Senin, 28/09/2020 17:20 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel diketahui sempat melakukan kunjungan rahasia ketika tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny dirawat karena dugaan diracun. Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. (Foto: AP/Pavel Golovkin)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kanselir Jerman, Angela Merkel diketahui sempat melakukan kunjungan rahasia ketika tokoh oposisi RusiaAlexei Navalny dirawat. Kabar tersebut pertama kali diungkap oleh majalah Jerman, Der Spiegel.

Dalam laporannya, Del Spiegel mengatakan kunjungan Merkel dianggap sebagai sinyal kepada Krembil bahwa Berlin 'tidak akan menyerah dan akan menemukan kebenaran'.

Kabar tersebut menyusul laporan Prancis yang mengatakan bahwa Presiden Emmanuel Macron "marah" dengan klaim Presiden Rusia, Vladimir Putin. Putin menduga Navalny mungkin meracuni dirinya sendiri.
 
"Kunjungan rahasia ke Navalny adalah tanda lebih lanjut tentang seberapa besar komitmen Kanselir kepada Navalny dan (Kanselir) tidak akan siap membiarkan kasus ini berhenti untuk sementara waktu," tulis Der Spiegel seperti mengutip Moscow Times.


Media tersebut tidak menyebutkan kapan tepatnya Merkel mengunjungi Navalny atau bagaimana pihaknya memperoleh informasi mengenai detail kunjungan Merkel.

Navalny membenarkan kabar kunjungan Merkel di rumah sakit. Ia juga mengatakan jika Merkel sempat berbincang dengan keluarganya.

"Saya sangat berterima kasih kepada Kanselir Merkel karena mengunjungi saya di rumah sakit," tulis Navalny di Twitter, seperti dikutip AFP.
 
"Itu tidak boleh disebut 'rahasia', tapi (lebih kepada) pertemuan dan percakapan pribadi," tambahnya.

Navalny jatuh sakit dalam penerbangan di Siberia pada 20 Agustus, dua hari kemudian dia diterbangkan ke Berlin dalam keadaan koma. Saat ini, Navalny sedang menjalani pemulihan.

Jerman mengatakan temuan laboratoriumnya yang didukung oleh para ilmuwan Prancis dan Swedia "dengan tegas" menunjukkan Navalny diracuni oleh zat saraf Novichok.
 
"Bagi pemerintah Jerman, penggunaan zat saraf yang dilarang secara global adalah indikasi yang jelas bahwa lembaga negara Rusia berada di balik rencana pembunuhan," tulis Der Spiegel.
 
Rusia menyangkal bahwa Navalny diracuni. Pekan lalu, para pejabat setempat mengklaim bahwa Rusia tidak pernah mengembangkan Novichok.

(ans/evn)

[Gambas:Video CNN]