Serangan Roket di Baghdad Tewaskan 5 Warga Sipil

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 03:45 WIB
Serangan roket menghantam sebuah rumah di dekat bandara Baghdad, Irak, dan menewaskan lima orang. Ilustrasi. Serangan roket menghantam sebuah rumah di dekat bandara Baghdad, Irak, dan menewaskan lima orang. (Istockphoto/Alexander C)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serangan roket menghantam sebuah rumah di dekat bandara Baghdad, Irak, dan menewaskan lima orang.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (29/9), roket yang ditembakkan diduga adalah jenis Katyusha. Penyerang diduga menargetkan bandara, tetapi roket itu malah menerjang sebuah rumah di dekat kawasan tersebut.

Lima orang yang meninggal terdiri dari tiga anak-anak dan dua perempuan. Sedangkan dua anak lainnya mengalami luka-luka.


Rumah yang menjadi korban serangan roket dilaporkan hancur lebur. Dilaporkan roket itu ditembakkan dari kawasan al-Jihad di Baghdad.

Angkatan Bersenjata Irak menyatakan serangan itu sebagai tindakan pengecut yang dilakukan kelompok penjahat, dengan tujuan membuat kekacauan dan meneror penduduk. Ini adalah pertama kali serangan roket di Baghdad menewaskan penduduk sipil.

Perdana Menteri Irak, Mustafa al-Kadhimi, memerintahkan aparat keamanan menangkap para pelaku. Dia mengatakan pelaku tidak kebal hukum dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Serangan roket di Irak semakin sering terjadi. Pelaku biasanya menargetkan gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad yang terletak di Zona Hijau yang dibatasi dengan tembok tebal. Selain itu, serangan roket juga kerap menargetkan pangkalan angkatan bersenjata Amerika Serikat serta bandara Baghdad.

Selain roket, pelaku kerap menyerang pasukan AS dengan meletakkan bom yang disembunyikan di pinggir jalan.

Serangan roket di Irak biasanya hanya menyebabkan kerusakan ringan, dan jarang menimbulkan korban luka atau meninggal.

Diduga kuat serangan roket itu dilakukan oleh milisi Syiah di Irak, sebagai pembalasan atas pembunuhan terhadap komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qassim Soleimani.

Selain itu, salah satu tokoh milisi di Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, juga menolak perintah untuk meletakkan senjata.

Sebagian kalangan meyakini serangan roket itu terjadi setelah pasukan pemerintah menggerebek markas milisi Kataib Hezbollah, yang disinyalir dibantu oleh Iran. Kelompok itu diduga mendesak pemerintah Irak segera membebaskan rekan-rekan mereka yang saat ini ditahan.


AS Ancam Hengkang

Pemerintah AS dilaporkan murka kepada Irak akibat serangan roket bertubi-tubi tersebut.

Menanggapi serangan yang terus terjadi terhadap kedutaan dan pasukan mereka, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengancam akan menutup kedutaan jika pemerintah Irak tidak bertindak. Ancaman itu disampaikan Pompeo saat berbincang dengan Presiden Irak, Barham Saleh, dan al-Kadhimi, melalui sambungan telepon.

Pompeo mengatakan kepada Saleh jika serangan roket itu terus terjadi, maka AS akan menutup seluruh perwakilan diplomatik di Irak.

Meski demikian, menutup dan menarik seluruh staf dari Baghdad akan dilihat sebagai bentuk kekalahan AS. Sebab, mereka sudah berkorban uang dan nyawa pasukan yang tidak sedikit sejak menduduki Irak.

"AS akan melihat bagaimana pemerintah Irak bertindak dalam dua bulan ke depan," kata sumber di pemerintahan Irak.

Menurut sumber itu, AS mendesak al-Kadhimi untuk segera menghentikan serangan terhadap misi diplomatik asing, pangkalan militer, dan konvoi logistik untuk pasukan koalisi.

Dua diplomat dari negara Barat menyampaikan bahwa kedutaan AS di Baghdad tengah mempersiapkan langkah penutupan. Namun, Kedubes AS di Baghdad belum memberikan konfirmasi soal itu.

Proses penutupan Kedubes AS di Baghdad juga tidak mudah. Sebab, dari segi bangunan dan jumlah staf, perwakilan diplomatik Negeri Paman Sam itu menjadi yang terbesar di dunia.

Proses evakuasi barang-barang, berkas serta staf bakal memakan waktu.

Pada 2018, Pompeo memutuskan menutup konsulat AS di Basra, Irak, karena kerap diserang milisi Syiah yang diduga disokong Iran.

Pompeo yang sempat menjadi anggota Kongres juga melontarkan kritik tajam kepada Presiden AS, Barack Obama, dan Menteri Luar Negeri saat itu, Hillary Clinton, atas serangan terhadap pos diplomatik AS di Benghazi, Libya, yang menewaskan duta besar dan seorang teknisi teknologi informasi. 

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]