Survei FPCI Ungkap Responden Harap ASEAN Tak Memihak China

CNN Indonesia | Jumat, 23/10/2020 23:15 WIB
Survei yang digelar oleh FPCI memperlihatkan penduduk di Asia Tenggara berharap ASEAN tidak memihak China. Konferensi Tingkat Tinggi para pemimpin negara anggota ASEAN. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah survei yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) memperlihatkan bahwa penduduk di Asia Tenggara berharap Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) tidak memihak China, terkait situasi politik dan keamanan saat ini.

Dalam hasil survei FPCI yang dirilis pada Jumat (23/10) dinyatakan sebagian besar responden dari semua kategori berpendapat bahwa ASEAN saat ini tidak boleh berpihak pada negara mana pun.

Para responden malah memandang ASEAN harus melangkah dan secara proaktif menengahi hubungan antara dua kekuatan besar, yakni Amerika Serikat dan China. Persaingan kekuatan besar yang tidak terkendali dinilai akan berdampak negatif bagi kawasan.


Sejumlah negara-negara Asia Tenggara yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia dan Vietnam bersengketa dengan China terkait pengelolaan dan penguasaan perairan Laut China Selatan. Sementara China saat ini tengah membangkitkan militer mereka, dan mempunyai pangkalan militer di perairan tersebut dan mengklaim seluruh Laut China Selatan adalah milik mereka.

Sedangkan Amerika Serikat memperlihatkan sikap menantang China dengan turut mengerahkan armada kapal perang di Laut China Selatan. Situasi itu dikhawatirkan sangat rentan dan bisa memicu perang terbuka kapan saja jika terjadi insiden atau salah paham.

Di sisi lain, tingkat skeptisme relatif lebih tinggi dalam dimensi hubungan politik-keamanan. Dalam survei terungkap bahwa ada kekhawatiran tentang sentralitas ASEAN dan bagaimana interaksi dengan China akan mempengaruhi kedaulatan negara-negara ASEAN.

Perhatian seperti itu, kata FPCI, dalam surveinya dapat dimengerti dan harus diperhitungkan untuk memastikan hubungan yang lebih ramah antara kedua mitra.

Kemudian, di antara responden dari kalangan elite dijelaskan pentingnya pemangku kepentingan terlibat langsung dalam proses kerja sama. Sementara itu masyarakat sipil menunjukkan tingkat skeptis yang lebih tinggi.

Survei itu dilakukan pada tahun ini dan dirilis melalui sebuah diskusi yang disiarkan oleh akun Youtube organisasi tersebut.

Responden survei berjumlah lebih dari 1.000 orang dari seluruh negara anggota ASEAN. Terdiri dari akademisi, komunitas bisnis, masyarakat sipil, pejabat resmi, hingga pelajar.

Responden mereka paling banyak dari Indonesia sebanyak 580 orang dan paling sedikit dari Brunei Darusalam dengan jumlah 12 orang.

Secara umum para responden berharap agar ada hubungan kuat yang lebih baik dalam organisasi ASEAN-China.

Dalam survei itu, FPCI merekomendasikan empat hal, pertama optimalisasi kerjasama pada bidang-bidang yang dominan penilaian positif dan optimisnya seperti bidang ekonomi dan sosial budaya, sambil terus meningkatkan proses membina kepercayaan (trust-building) dalam dimensi politik-keamanan yang sensitif.

Kemudian yang kedua, kerja sama seperti itu harus terus dikembangkan di bawah mekanisme ASEAN dan sentralitas ASEAN harus dijaga.

Skeptisisme yang relatif lebih tinggi dapat dimengerti, karena adalah normal bagi negara-negara untuk merisaukan kebangkitan negara tetangga.

Untuk meredakan dan mengelola kecemasan seperti itu, FPCI menyatakan penting untuk memastikan bahwa semua pihak, yang kuat dan yang kurang kuat, menghormati permainan di kota dan tidak mencoba menggantinya dengan berbasis kekuatan.

Rekomendasi ketiga yakni mengembangkan lebih banyak hubungan antarmasyarakat (people to people connection) dalam kerja sama ASEAN-China.

Selain itu, survei menemukan bahwa tingkat optimisme dan pandangan positif lebih terlihat pada para pemangku kepentingan yang terlibat langsung dalam proses kerjasama seperti pejabat pemerintah dan pelaku usaha.

Hal itu menunjukkan bahwa kerjasama belum dirasakan manfaatnya secara merata di seluruh lapisan masyarakat.

"Kami merekomendasikan secara serius untuk mengembangkan lebih banyak kerja sama yang melibatkan masyarakat sipil dan akademisi, seperti melalui proyek kolaborasi bottom-up atau kolaborasi penelitian," tulis FPCI dalam hasil survei itu, seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Lalu rekomendasi yang keempat adalah mengembangkan lebih banyak program khusus pemuda untuk kerja sama ASEAN dan China.

(ndn/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK