Menlu Prancis Kunjungi Mesir Demi Redakan Tensi dengan Muslim

CNN Indonesia | Selasa, 10/11/2020 09:50 WIB
Menlu Prancis, Jean-Yves Le Drian, melawat ke Mesir menemui Imam Besar Universitas Al-Azhar guna meredakan ketegangan dengan dunia Islam. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Yves Le Drian. (AFP/FETHI BELAID)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis, Jean-Yves Le Drian, melawat ke Mesir untuk bertemu dengan Imam Besar Universitas Al-Azhar, dengan harapan meredakan ketegangan dengan dunia Islam.

Dalam kunjungannya, Le Drian bertemu dengan para pejabat senior Mesir pada Senin (9/11) waktu setempat. Para pejabat yang ditemui Le Drian di antaranya adalah Presiden Mesir, Abdel Fattah Al-Sisi, dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed Al Tayeb.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk meredakan ketegangan usai sengkarut publikasi ulang karikatur Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah satire Prancis, Charlie Hebdo. Selain itu juga untuk meredam perselisihan akibat pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.


Dalam pertemuan dengan Al-Sisi, Le Drian membahas masalah tersebut. Presiden Mesir menegaskan kembali pentingnya "hidup berdampingan" di antara penganut semua agama.

Sementara itu, Ahmed mengatakan bahwa penghinaan kepada Nabi Muhammad S.A.W., tidak dapat diterima. Ia pun menyatakan bahwa umat Muslim akan mengecam siapa pun yang melakukan hal itu.

"Menghina Nabi kami sama sekali tidak dapat diterima, dan kami akan mengejar siapa saja yang tidak menghormati Nabi kami yang terhormat di pengadilan internasional, bahkan jika kami menghabiskan sisa hidup kami untuk masalah ini sendirian," ucapnya dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (10/11).

Ia kemudian menyinggung soal kebebasan berpendapat yang kerap digaungkan di Prancis. Ahmed mengatakan dia akan menjadi orang pertama yang memprotes prinsip kebebasan berpendapat ketika hal itu justru menyinggung.

"Saya orang pertama yang memprotes kebebasan berpendapat ketika kebebasan ini menyinggung agama apa pun, tidak hanya Islam," ucapnya.

"Eropa berutang budi kepada Nabi Muhammad S.A.W., dan agama kami, karena cahaya yang telah diperkenalkan agama ini kepada seluruh umat manusia," kata Ahmed lagi.

Mengenai persoalan mengaitkan terorisme dengan Islam, Ahmed dengan tegas menyatakan "Kami menolak menyebut terorisme 'Islami'."

Ahmed menambahkan Muslim di seluruh dunia menolak terorisme dan menekankan bahwa Islam dan nabinya tidak ada hubungannya dengan terorisme.

Sang Imam Besar Al-Azhar menekankan bahwa "pelanggaran dapat ditemukan di antara pengikut semua agama dan di bawah semua sistem. Jika kita mengatakan bahwa Kristen tidak bertanggung jawab atas insiden Selandia Baru, kita juga harus mengatakan bahwa Islam tidak bertanggung jawab atas terorisme yang bertempur dalam namanya (Nabi Muhammad S.A.W.)."

Di sisi lain, Le Drian mengatakan bahwa Ahmed memberikan usulan atas sengkarut yang kini tengah terjadi.

"Imam Besar mengusulkan agar kita bekerja sama menuju konvergensi bersama... karena bersama-sama kita harus melawan fanatisme," ujarnya.

Le Drian menyatakan pemerintah Prancis sangat menghormati umat Muslim. Namun, mereka menolak terorisme.

"Saya telah menekankan, dan menekankan di sini, rasa hormat yang mendalam yang kami miliki untuk Islam. Apa yang kami perangi adalah terorisme, ini adalah pembajakan agama, itu adalah ekstremisme," katanya.

Sikap Macron yang tidak melarang publikasi ulang karikatur Nabi Muhammad S.A.W., memicu kecaman dari berbagai negara dan umat Muslim dunia.

Kecaman ini kemudian berubah menjadi ajakan memboikot produk-produk Prancis di negara-negara mayoritas Muslim, termasuk Indonesia.

(ndn/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK