PBB: Vaksin Corona Tak Langsung Perbaiki Kerusakan Pandemi

CNN Indonesia | Jumat, 04/12/2020 12:25 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa keberadaan vaksin corona kelak tidak bisa serta merta memperbaiki kerusakan dari pandemi global. Sekjen PBB Antonio Guterres. (Foto: AFP PHOTO / KENA BETANCUR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBBAntonio Guterres memperingatkan bahwa keberadaan vaksin corona tidak bisa serta merta memperbaiki kerusakan dari pandemi global yang berlangsung selama bertahun-atau atau bahkan hingga beberapa dekade mendatang.

Guterres menuduh beberapa negara yang sejak awal pandemi mengabaikan atau menolak rekomendasi WHO sehingga upaya penanganan yang ditempuh salah arah.

"Hampir setahun setelah pandemi, kami menghadapi tragedi kemanusiaan, dan kesehatan masyarakat, darurat kemanusiaan dan pembangunan," kata Guterres di harapan pemimpin dunia pada sesi khusus rapat umum tentang Covid-19 seperti mengutip Associated Press.


Pernyataan Guterres merujuk pada meningkatnya angka kemiskinan dan ancaman kelaparan serta resesi ekonomi terbesar dalam delapan dekade terakhir yang dihadapi masyarakat global.

Menurutnya, dampak tersebut bukan hanya karena pandemi virus corona, tetapi juga hasil dari ketidaksetaraan dan ketidakadilan jangka panjang ketika pandemi tidak segera ditangani dengan baik.

Hampir 80 pemimpin dunia, lebih dari 50 menteri dan 10 wakil pemimpin dunia dijadwalkan untuk berbicara selama sesi khusus rapat yang dibuka oleh Presiden Majelis Umum PBB Volkan Bozkir. Sekitar 193 diplomat anggota PBB mengenakan masker saat menghadiri sidang.

Bozkir mengatakan sesi mengenai vaksin corona merupakan ujian untuk multilateralisme terkait upaya yang harus dilakukan dunia untuk memastikan akses yang adil dan merata. Negara-negara di dunia harus bekerja sama untuk melindungi negara yang paling rentan dalam menyediakan sumber daya yang memadai untuk pemulihan ekonomi.

Guterres mendesak anggota G20 untuk mendukung program akselerator bagi negara yang kekurangan uang untuk mengembangkan dan mendistribusikan vaksin, termasuk program Covax.

Ia mengaku merasa frustrasi karena kurangnya respons pemimpin dunia, terlihat dari kurangnya pendanaan untuk mendukung program tersebut dari target sebesar US$28 miliar.

Di seluruh dunia hingga saat ini tercatat ada 160 kandidat vaksin corona, sekitar 50 diantaranya sudah melakukan uji klinis. Produsen vaksin BioNTech yang digandeng Pfizer, dan Moderna sejauh ini mengklaim keampuhannya melampaui 90 persen.

Perusahaan asal Jerman BioNTech yang digandeng Pfizer menjadi yang pertama mengumumkan kandidat vaksin corona BNT162b2 diklaim memiliki keampuhan 95 persen.

Disusul perusahaan farmasi AS, Moderna yang mengklaim kandidat avaksinnya, mRNA-1273 memiliki efektivitas mencapai 94,5 persen.

(Associated Press/evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK