AS Harus Kuasai Teknologi Robotik untuk Ungguli Militer China

CNN Indonesia | Jumat, 04/12/2020 15:41 WIB
Jenderal tertinggi Pentagon mengatakan Amerika Serikat harus memanfaatkan teknologi robotik dan kecerdasan buatan jika ingin tetap unggul dari China. Militer Amerika Serikat. (Andrew Craft/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jenderal tertinggi Pentagon mengatakan Amerika Serikat harus memanfaatkan teknologi robotik dan kecerdasan buatan jika ingin tetap unggul dari China.

Ketua Staf Gabungan Jenderal Mark Milley mengatakan Pentagon perlu menempatkan pasukan yang lebih kecil dan mampu dipersenjatai dengan rudal jarak jauh di seluruh Asia.

Menurut dia AS harus meminimalkan jejak militernya di luar negeri. Sebab penempatan pangkalan permanen di tempat-tempat seperti Korea Selatan dan Bahrain membuat pasukan AS beserta keluarga dan staf mereka menjadi rentan.

"Saya bukan penggemar pangkalan militer permanen besar AS di luar negeri, di negara orang lain. Pasukan yang lebih kecil, tersebar luas, yang sangat sulit dideteksi akan menjadi kunci bagi militer masa depan," kata Milley pada simposium daring Forum Pertahanan Washington di Institut Angkatan Laut AS, Kamis (3/12) dikutip dari AFP.


Untuk mencegah China menguasasi Pasifik barat, AS harus memiliki unit berbasis darat di Filipina, Vietnam, dan Australia yang mengoperasikan baterai rudal presisi jarak jauh yang dapat menghancurkan kapal angkatan laut Tiongkok.

Untuk mendukung hal itu, Pentagon perlu merencanakan membangun armada angkatan lautnya menjadi lebih dari 500 kapal pada 2045, termasuk kapal tak berawak, kapal robotik, dan hingga 90 kapal selam. Saat ini, AS baru memiliki sekitar 300 kapal.



"Saya tidak mengatakan Anda akan berperang dengan China. Saya mengatakan kita ingin mencegah perang dengan China, dan kita harus berinvestasi dalam kemampuan pasukan untuk mencegah hal itu terjadi. Anda ingin lawan Anda tahu dengan tegas bahwa jika mereka berselisih dengan AS, mereka akan kalah telak," ujarnya.

Selain itu, Milley mengatakan saat ini AS berada di tengah perubahan mendasar dalam karakter perang, merujuk pada penggunaan amunisi berpemandu presisi, drone, peralatan robotik lainnya, dan komunikasi satelit yang canggih.

Dia mengatakan, siapa pun yang paling menguasai teknologi tersebut akan menjadi "penentu" dalam perang.


"Jika Anda memasukkan kecerdasan buatan dan Anda melakukan kerja sama manusia-mesin, sertakan pula robotika, masukkan amunisi presisi dan kemampuan untuk merasakan dan melihat, sertakan beberapa senjata hipersonik, dan Anda mendapat perubahan mendasar di medan perang global," ujarnya.

Lebih lanjut, Milley mengatakan senjata robotik akan ada di mana-mana dalam 10 atau 15 tahun, di mana China dengan cepat mengembangkan kemampuan tersebut.

"Mereka tidak hanya ingin menandingi kami, tapi melebihi kami, mendominasi kami, dapat mengalahkan kami dalam konflik bersenjata pada pertengahan abad," kata Milley.

(ans/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK