WHO: Ada Vaksin Corona Tak Berarti Nol Infeksi Covid-19

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 05/12/2020 13:11 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan vaksin Covid-19 bukan jaminan bakal menghilangkan virus corona dengan sendirinya. ilustrasi vaksin: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan vaksin Covid-19 bukan jaminan bakal menghilangkan virus corona dengan sendirinya. (AP/Ted S. Warren)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan vaksin Covid-19 bukan jaminan bakal menghilangkan virus corona dengan sendirinya.

WHO juga memperingatkan agar tidak berpuas diri dan menanamkan keyakinan yang keliru bahwa ketika vaksin-vaksin sudah dikeluarkan maka pandemi akan berakhir.

"Vaksin tidak sama dengan 'nol' Covid," kata Direktur Darurat WHO Michael Ryan pada konferensi pers virtual dikutip AFP.


"Vaksin dan vaksinasi akan menambah alat utama dan kuat ke kit yang kita miliki. Namun dengan sendirinya, mereka (vaksin) tidak akan melakukan pekerjaan itu (menghilangkan Covid-19)," tambahnya.

Kendati demikian, WHO prihatin bahwa ada persepsi yang berkembang bahwa pandemi akan berakhir usai vaksin ditemukan. Itu adalah anggapan yang salah.

Inggris pada Rabu (2/12) waktu setempat menjadi negara pertama yang menyetujui vaksin untuk penggunaan umum.

Sebelumnya, Inggris dan Rusia dilaporkan akan memulai vaksinasi virus corona mulai pekan depan. Hal itu menyusul kabar yang diungkapkan oleh masing-masing pemimpin negara pada pekan ini.

Perdana Menteri Boris Johnson pada Rabu (2/12) memuji Inggris sebagai negara pertama yang menyetujui vaksin virus corona dari Pfizer/BioNTech. Dia menyebutnya sebagai berita "fantastis" yang akan membantu kehidupan kembali normal.

"Sungguh luar biasa bahwa MHRA (Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan) secara resmi telah mengesahkan vaksin Pfizer/BioNTech untuk Covid-19. Vaksin akan mulai tersedia di seluruh Inggris mulai pekan depan," cuit Boris di Twitter.

"Pada akhirnya perlindungan vaksinlah yang akan memungkinkan kita untuk mendapatkan kembali hidup kita dan membuat ekonomi bergerak lagi," ujarnya.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer/BioNTech dilaporkan memiliki tingkat keberhasilan sebesar 95 persen dan kini telah disetujui untuk digunakan di Inggris.

Sejauh ini, vaksin tersebut telah diuji ke 43.500 orang di enam negara dan telah terbukti mencegah mereka tertular Covid-19 dengan keberhasilan tinggi, bahkan pada kelompok usia yang lebih tua.

Selain vaksin Pfizer, dalam waktu dekat Inggris kemungkinan juga akan akan memberi lampu hijauh bagi vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford.

Seperti halnya Inggris, Presiden Vladimir Putih juga telah memerintahkan vaksinasi Covid-19 skala besar di Rusia mulai pekan depan. Rusia sejauh ini telah memproduksi hampir dua juta dosis vaksin Sputnik V.

Vaksin ini akan tersedia gratis bagi seluruh warga Rusia dan proses penyuntikan sendiri akan dilakukan secara sukarela.

Produsen Sputnik V pekan lalu melaporkan bahwa vaksin tersebut 95 persen efektif setelah mereka melakukan uji coba terhadap 40 ribu relawan. Menteri Kesehatan Rusia, Mikhail Murashko dalam sebuah sesi di markas PBB pada Rabu (2/12) mengatakan bahwa hingga saat ini, lebih dari 100 ribu warga Rusia sudah mengikuti vaksinasi menggunakan Sputnik V.

Di konferensi yang sama, Kepala Yayasan Pendanaan Langsung Rusia, Kirill Dmitriyev, mengklaim bahwa lebih dari 40 negara sudah menunjukkan ketertarikan dengan vaksin tersebut.

Bahrain bahkan juga sudah secara resmi mengungkapkan bakal menggunakan vaksin pfizer untuk mengatasi infeksi virus corona.

(din/chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK