UNESCO Minta Guru Dapat Prioritas Vaksin Corona

CNN Indonesia | Selasa, 15/12/2020 01:11 WIB
UNESCO meminta kepada semua negara agar guru bisa bisa dianggap sebagai pekerja garis depan yang bisa dapat prioritas untuk dapat vaksin corona. UNESCO meminta agar guru mendapat prioritas vaksin corona. Ilustrasi. (iStockphoto/Vladans).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan (UNESCO) pada Senin (14/12) meminta pemerintah untuk memberikan prioritas pemberian vaksin corona kepada guru. Mereka meminta guru disamakan dengan  pekerja garis depan yang harus diberikan prioritas.

Seruan itu datang ketika Amerika Serikat, negara yang paling parah terkena virus, memulai upaya vaksinasi corona terbesar dalam sejarahnya dengan memberikan suntikan kepada seorang perawat di New York.

"Saat kami melihat perkembangan positif terkait vaksinasi, kami percaya bahwa guru dan personel pendukung pendidikan harus dianggap sebagai kelompok prioritas," kata kepala UNESCO Audrey Azoulay dalam pesan video bersama dengan kepala organisasi guru Pendidikan Internasional (IE), David Edwards seperti dikutip dari AFP, Selasa (15/12).


Azoulay dan Edwards mengatakan ketika sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya ditutup untuk mencegah penyebaran virus, guru dan personel pendukung merupakan pihak yang berada di garda paling depan.

Saat pembelajaran dialihkan dari tatap muka ke internet, guru lah yang menemukan kembali cara mengajar. Mereka menambahkan bahwa ketika sekolah dibuka kembali, para guru kembali dengan berani ke kelas.

Menekankan bahwa sekolah merupakan sesuatu yang tak tergantikan, UNESCO yang berbasis di Paris meminta para guru untuk menjadi yang pertama dalam antrean yang akan diinokulasi oleh vaksin corona.

AS berencana memberikan vaksin corona 20 juta orang pada akhir 2020. Program tersebut diluncurkan setelah mereka mendapatkan persetujuan darurat untuk menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech yang sudah digunakan di Inggris.

(AFP/agt)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK