Gerakan Black Lives Matter Diusulkan Masuk Nobel Perdamaian

CNN Indonesia | Minggu, 31/01/2021 01:01 WIB
Gerakan Black Lives Matter dinominasikan untuk meraih Nobel perdamaian 2021. Ilustrasi aksi unjuk rasa Black Lives Matter yang mengusung aspirasi anti-rasialisme dan menolak kekerasan polisi di Amerika Serikat. (AP/Bo Amstrup)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gerakan Black Lives Matter dinominasikan untuk meraih Nobel perdamaian 2021. Sebab gerakan itu dinilai mempunyai pengaruh besar untuk perubahan di seluruh dunia.

Anggota parlemen Norwegia, Petter Eide, sebagai pihak yang mengusulkan mengatakan gerakan itu memaksa negara-negara di luar AS untuk memerangi rasialisme.

"Saya melihat, tantangan utama kami adalah Amerika, tapi ternyata di Eropa dan Asia juga terjadi konflik yang disebabkan oleh ketidaksetaraan," kata Eide.


Ia menambahkan, Black Lives Matter menjadi gerakan yang mendunia dan sangat penting untuk melawan ketidakadilan rasial.

"Mereka memiliki pencapaian luar biasa dalam meningkatkan kesadaran dan kesadaran global tentang ketidakadilan rasial," ucapnya dikutip The Guardian, Sabtu (30/1).

Edie juga pernah menominasikan aktivis hak asasi manusia dari Rusia dan China untuk penghargaan sama. Namun, kali ini dia mengaku gerakan Black Lives Matter mempunyai sesuatu yang berbeda.

"Mereka dapat memobilisasi orang dari semua kelompok masyarakat, tidak hanya Afrika-Amerika, orang-orang tertindas. Itu (Black Lives Matter ) telah menjadi gerakan yang marak dengan cara yang berbeda dengan gerakan-gerakan sebelumnya," kata Eide.

Gerakan Black Lives Matter digagas oleh Alicia Garza, Patrisse Cullors, dan Opal Tometi sebagai tanggapan atas pembebasan pria yang menembak Trayvon Martin di Amerika Serikat pada 2013.

Akan tetapi, gerakan ini baru mendapatkan pengakuan lebih luas pada 2014. Saat itu, terjadi protes atas kematian dua lelaki kulit hitam, Michael Brown dan Eric Garner, yang diduga dipicu pandangan rasialisme.

Protes ini juga memantik solidaritas dari negara lain pada 2020 setelah kematian George Floyd dan Breonna Taylor.

Demonstrasi gerakan Black Lives Matter juga dinilai tidak menyebabkan kerugian. Berdasarkan data yang dihimpun dari lokasi konflik bersenjata dan data peristiwa hingga September 2020 menunjukkan 93 persen demonstrasi Black Lives Matter tidak membahayakan orang lain atau properti.

Sebelumnya banyak tokoh yang mendapatkan penghargaan perdamaian dan melawan rasisme. Albert Luthuli dan Nelson Mandela menerima penghargaan itu masing-masing pada 1960 dan 1993 karena mengadvokasi diskriminasi rasial di Afrika Selatan.

Pada 1964, Martin Luther King dianugerahi penghargaan untuk perlawanan tanpa kekerasan terhadap rasisme di AS.

Menurut Eide,  Black Lives Matter juga berhak menerima penghargaan serupa.

"Ini adalah hubungan yang kuat antara gerakan antirasisme dan perdamaian, dan pengakuan bahwa tanpa keadilan semacam ini, tidak akan ada perdamaian dan stabilitas dalam masyarakat, " kata Eide.

"Penghargaan perdamaian diberikan kepada Black Lives Matter sebagai kekuatan global terkuat melawan ketidakadilan rasial, juga mengirimkan pesan yang kuat untuk perdamaian yang didasarkan pada kesetaraan, solidaritas, hak asasi manusia, dan semua negara harus menghormati prinsip-prinsip dasar tersebut," tulis Eide dalam kesimpulan usulan nominasi tersebut.

(yla/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK