NATO Ultimatum Rusia Berhenti Kirim Tentara Dekati Ukraina

CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 07:53 WIB
NATO meminta Rusia berhenti mengirim pasukan ke perbatasan Ukraina untuk menghindari peperangan. Ilustrasi tentara Rusia menggelar latihan perang di Krimea. (VASILY MAXIMOV / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg, meminta Rusia berhenti mengirim pasukan ke perbatasan Ukraina untuk menghindari peperangan antara kedua negara.

"Dalam beberapa pekan ini Rusia mengerahkan ribuan pasukan ke perbatasan Ukraina, yang merupakan pengerahan pasukan dalam jumlah terbesar sejak mencaplok Krimea pada 2014," kata Stoltenberg usai dalam jumpa pers di Brussels, Belgia, seperti dilansir Reuters, Rabu (14/4).

"Rusia harus segera menghentikan mengerahkan pasukan di perbatasan Ukraina dan berhenti melakukan provokasi dan meredam ketegangan secepatnya," ujar mantan Perdana Menteri Norwegia itu.


Stoltenberg juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, dan Menlu Ukraina, Dmytro Kuleba. Ketiganya membahas soal ketegangan di kawasan perbatasan Ukraina akibat pengerahan pasukan Rusia.

Terkait usulan untuk memasukkan Ukraina sebagai anggota NATO, Stoltenberg menyatakan keputusan akhir ada di tangan seluruh negara anggota.

Dalam jumpa pers bersama itu, Blinken menyatakan AS akan tetap mendukung Ukraina untuk menjaga keutuhan wilayah.

Di sisi lain, Rusia menyatakan pengerahan pasukan itu bertujuan untuk mempertahankan diri dari serangan. Sebab menurut mereka, NATO mencoba mengganggu kestabilan wilayah dengan mengerahkan pasukan di kawasan Baltik dan Polandia sejak Rusia mencaplok Krimea.

Menurut keterangan Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, pengerahan pasukan adalah bentuk kesiapan tempur dan juga sebagai latihan perang.

Dia mengatakan NATO justru berencana mengerahkan 40 ribu tentara dan 15 ribu persenjataan ke wilayah yang berdekatan dengan Rusia. Akan tetapi, NATO membantah hal itu.

Rusia juga meminta AS dan sekutu untuk tidak mengerahkan kekuatan militer. Mereka juga memperingatkan supaya kapal perang AS jangan ada yang mendekati kawasan Krimea, yang merupakan lokasi strategis di Laut Hitam dan saat ini kerap diawasi oleh negara anggota NATO dengan patroli maritim.

Peperangan di kawasan timur Ukraina pecah pada 2014 setelah Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yanukovych, yang dekat dengan Rusia tumbang dari kekuasaan akibat gelombang demo. Peperangan itu menelan korban jiwa lebih dari 13 ribu orang, dan Ukraina kehilangan Krimea yang diduduki oleh Rusia.

(ayp/ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK