Intelijen AS: Korut Bisa Uji Coba Rudal Antarbenua Tahun Ini

CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 12:54 WIB
Intelijen Amerika Serikat melaporkan bahwa Korea Utara kemungkinan dapat menguji coba rudal balistik antarbenua dan senjata nuklir lainnya pada tahun ini. Ilustrasi rudal Korut. (AP/朝鮮通信社)
Jakarta, CNN Indonesia --

Intelijen Amerika Serikat melaporkan bahwa Korea Utara kemungkinan dapat menguji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) dan senjata nuklir lainnya pada tahun ini.

Kantor Direktur Intelijen Nasional AS menyatakan bahwa mereka mulai mendeteksi kemungkinan ini setelah melihat gerak-gerik pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un.

"Kim Jong-un mungkin mengambil sejumlah langkah agresif dan berpotensi mengacaukan stabilitas demi mengubah keamanan dan menjauhkan Amerika Serikat dari sekutu-sekutunya," demikian kutipan laporan itu, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (13/4).


Laporan itu berlanjut dengan menjabarkan langkah agresif itu dapat termasuk "melanjutkan uji coba senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua."

Menurut intelijen, Kim Jong-un menganggap uji coba ini dapat meningkatkan pertahanan mereka melawan intervensi asing.

"[Kim Jong-un] yakin bahwa ia akan semakin diterima di dunia internasional dan dihormati sebagai negara dengan kekuatan nuklir," demikian bunyi laporan tersebut.

Korut sendiri tak pernah lagi menguji coba rudal jarak jauh selama tiga tahun belakangan. Namun dalam beberapa bulan belakangan, mereka mulai menguji coba rudal jarak menengah.

[Gambas:Video CNN]

"Kim kemungkinan mempertimbangkan untuk melanjutkan uji coba rudal jarak jauh dan senjata nuklir tahun ini untuk mencoba mendesak AS bekerja sama dengannya sesuai dengan keinginan Korut," demikian kutipan laporan intelijen.

Dalam laporan itu, Kantor Direktur Intelijen Nasional AS juga membahas rencana Iran untuk memperkaya uranium hingga 60 persen, mendekati batas untuk pengembangan senjata nuklir yang membutuhkan 90 persen.

"Kami akan terus memastikan agar Iran tak mengembangkan senjata nuklir atau pengembangan aktivitas yang dianggap cukup untuk memproduksi alat nuklir," bunyi laporan itu.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK