Eks Jenderal Israel Akui Sulit Hancurkan Program Nuklir Iran

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 12:17 WIB
Mantan jenderal Israel, Amos Yadlin, menyatakan tidak mudah menghancurkan program nuklir di Iran. Reaktor nuklir Bushehr, Iran. (MAJID ASGARIPOUR / MEHR NEWS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang mantan jenderal di Angkatan Udara Israel, Amos Yadlin, menyatakan memang tidak mudah menghancurkan program nuklir di Iran.

Menurut dia, situasi di Iran berbeda dari Irak dan Suriah yang juga sempat mempunyai program nuklir.

Dilansir Middle East Monitor, Rabu (21/4), Yadlin mengatakan banyak faktor yang membuat program nuklir Iran lebih rumit untuk dihancurkan.


Padahal, selama beberapa tahun belakangan fasilitas nuklir Iran disabotase dengan serangan bom atau siber.

Yang terbaru adalah dugaan sabotase di fasilitas pengayaan uranium bawah tanah di Natanz.

Selain itu, sejumlah ilmuwan nuklir Iran juga dibunuh yang diduga dilakukan oleh agen intelijen Israel (Mossad). Yang paling terakhir adalah pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh.

Dalam wawancara pada pekan lalu, Yadlin mengatakan salah satu yang menyulitkan untuk merusak program nuklir Iran adalah faktor kejutan.

"Saddam (Husein) dan (Bashar) Assad terkejut. Iran justru menunggu serangan ini selama 20 tahun," kata Yadlin.

Yadlin adalah salah satu pilot AU Israel yang terlibat Operasi Opera yang menghancurkan reaktor nuklir Irak pada Juni 1981.

Dia juga turut merancang skenario serangan udara terhadap reaktor nuklir Suriah pada 2007 silam. Saat itu dia menjabat sebagai kepala Dinas Intelijen Militer Israel.

Faktor kedua yang membuat program nuklir Iran sulit dihancurkan oleh Israel adalah karena lokasi reaktor dan fasilitas pengayaan uranium terpencar dan tersembunyi di kawasan yang sulit dijangkau, serta dijaga ketat. Fasilitas nuklir Iran disebut sengaja dibangun di bawah tanah dan kawasan pegunungan untuk menghindari serangan.

Sementara program nuklir Irak dan Suriah dilakukan di satu lokasi dan menjadi sasaran empuk serangan.

"Iran sudah belajar dari apa yang kami lakukan tapi kami juga belajar dan meningkatkan kemampuan," kata Yadlin.

Yadlin juga menyoroti soal langkah Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang berjanji mencabut sanksi jika Iran menurunkan tingkat pengayaan uranium sesuai kesepakatan yang diteken pada 2015. Namun, sampai saat ini baik AS dan Iran masih memantau pergerakan masing-masing.

Sebab, saat ini Iran menyatakan sudah berhasil meningkatkan pengayaan uranium hingga tingkat kemurnian sebesar 60 persen. Hal itu membuat Iran tinggal beberapa langkah lagi untuk bisa mendapatkan tingkat pengayaan uranium 90 persen yang bisa dipakai membuat bom nuklir.

"Kesepakatan awal terbukti menjadi masalah. Lihat betapa cepat mereka bergerak. Mereka bisa punya cukup uranium yang diperkaya untuk membuat dua atau tiga bom," ucap Yadlin.

Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran menjadi salah satu pilihan bagi Israel. Langkah lainnya yang bisa ditempuh adalah mendesak sekutu mereka, seperti AS, untuk terus menekan Iran dengan sanksi dan embargo, atau melakukan operasi rahasia seperti sabotase atau menghabisi tokoh kunci program nuklir Iran.

Langkah lain adalah dengan memantik gejolak sosial-politik di dalam negeri Iran dengan mengeksploitasi kelompok oposisi. Namun, cara itu juga tidak mudah karena pengaruh ulama dan kelompok Garda Revolusi di seluruh Iran sangat kuat.

(ayp/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK