Obama Kecam Kekerasan Junta Myanmar Terhadap Warga Sipil

CNN Indonesia
Rabu, 28/04/2021 01:50
Ilustrasi mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. (Spencer Platt/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama, menyatakan terkejut dengan kekerasan yang dilakukan junta militer Myanmar terhadap warga sipil.

Dalam sebuah pernyataan, Obama mendukung upaya Presiden AS, Joe Biden, dan negara lain untuk mendesak para jenderal Myanmar bertanggung jawab atas jatuhnya korban tewas dalam gejolak politik selepas kudeta pada 1 Februari lalu.

"Upaya militer yang tidak sah dan brutal untuk memaksakan kehendaknya setelah satu dekade kebebasan yang lebih besar jelas tidak akan pernah diterima oleh rakyat dan tidak boleh diterima oleh dunia yang lebih luas," cuit Obama di Twitter.


Para negara tetangga Myanmar, lanjut Obama, harus mengakui junta militer adalah rezim pembunuh yang ditolak oleh rakyat, hanya akan membawa ketidakstabilan yang lebih besar, krisis kemanusiaan, dan berisiko menjadi negara gagal.

"Ini adalah masa-masa kelam, tetapi saya tersentuh oleh persatuan, ketangguhan, dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi yang ditunjukkan oleh begitu banyak orang Burma," ujar mantan presiden AS itu, dikutip dari Reuters.

Obama berharap Myanmar bisa mendapatkan para pemimpin yang menghormati keinginan rakyat.

Mengutip CNN, selama Obama menjabat sebagai presiden, ia terlibat dalam memperjuangkan demokrasi di Myanmar. Dia tercatat dua kali mengunjungi Myanmar.

Hal itu merupakan perubahan besar dari satu dekade lalu, yakni ketika militer memulai transisi menuju demokrasi.

Kemudian, para jenderal membebaskan tokoh demokrasi, Aung San Suu Kyi, dan mengizinkannya mencalonkan diri serta membuka tender proyek energi dan telekomunikasi kepada perusahaan asing.

Obama menanggapi perubahan itu dengan mencabut embargo perdagangan dan sejumlah sanksi terhadap Myanmar. Tindakan itu, menurut beberapa pejabat AS terlalu dini, sebab negara itu kembali menjatuhkan sejumlah anyak sanksi setelah militer Myanmar kembali melakukan kudeta.

Lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik Myanmar (AAPP) mencatat sampai saat ini ada sebanyak 753 orang tewas dan 3.431 orang ditahan oleh junta militer karena menentang kudeta.

(isa/ayp/ayp)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK