Penyair Penolak Junta Myanmar Tewas dengan Organ Tubuh Hilang

CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 12:23 WIB
Penyair Myannmar penentang junta militer, Khet Thi meninggal di tahanan dan sebagian organ tubuhnya hilang saat dikembalikan ke keluarga. Aksi unjuk rasa tolak kudeta militer Myanmar. (REUTERS/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penyair Myannmar penentang junta militer, Khet Thi meninggal di tahanan dan sebagian organ tubuhnya hilang saat dikembalikan ke keluarga, Minggu (9/5).

Karya-karya Khet Thi kerap menyatakan perlawanan terhadap junta militer.

Istri Khet Thi, Chaw Su mengatakan, ia dan suaminya dibawa militer Myanmar untuk diinterogasi pada Sabtu (8/3) sore di pusat kota Shwebo, Sagaing.


"Saya diinterogasi, begitu pula dia. Mereka bilang dia ada di pusat interogasi. Tapi dia tidak kembali, hanya tubuhnya," kata Chaw Su sembari menangis kepada BBC, yang dilansir Reuters.

Menurut penuturan Chaw Su, militer Myanmar menelepon dirinya di pagi hari dan meminta untuk menemui sang suami di rumah sakit di Monywa.

"Saya pikir itu hanya untuk lengan yang patah atau semacamnya. Tapi ketika saya tiba di sini, dia berada di kamar mayat dan organ dalamnya diambil," ucap dia.

Chaw diberitahu pihak rumah sakit bahwa suaminya memiliki penyakit jantung. Namun, ia tak mau repot-repot membaca sertifikat kematian lantaran yakin isinya tak sesuai dengan kondisi sesungguhnya.

Sejauh ini, pihak rumah sakit tak memberi tanggapan apapun saat Reuters menghubunginya.

Tentara, kata Chaw Su, berencana menguburkan jenazah Khet Thi. Namun dia meminta kepada pihak berwenang untuk mengambil jenazah suaminya.

"Dia meninggal di rumah sakit setelah disiksa di pusat interogasi," kata kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Khet Thi merupakan penyair ketiga yang tewas selama protes sejak kudeta 1 Februari.

Penyair lain, K Za Win, tertembak saat protes berlangsung di Monywa pada awal Maret lalu.

Khet Thi mulanya seorang insinyur, sebelum akhirnya memilih berhenti dari pekerjaannya pada tahun 2012. Keputusan itu diambil, sebab ia ingin memfokuskan diri pada puisi-puisinya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia menjual es krim dan kue-kue.

"Saya tidak ingin menjadi pahlawan, saya tidak ingin menjadi martir, saya tidak ingin menjadi orang lemah, saya tidak ingin menjadi orang bodoh," tulis Khet Thi dua minggu usai kudeta.

"Saya tidak ingin mendukung ketidakadilan. Jika saya hanya punya waktu satu menit untuk hidup, saya ingin hati nurani saya bersih untuk saat itu."

Baru-baru ini, dia menulis bahwa dia adalah seorang pemain gitar, pembuat kue dan penyair, bukan seseorang yang bisa menembakkan senjata.

"Orang-orang saya ditembak dan saya hanya bisa melempar puisi," tulisnya.

Kekerasan yang terus terjadi membuat sikap Ket Thi menyiratkan perubahan.

"Tapi jika kamu yakin suaramu tidak cukup, maka kamu harus memilih senjata dengan hati-hati. Aku akan menembak," ujarnya.

Tokoh budaya dan selebritis selama ini aktif mendukung pentang kudeta. Mereka bahkan turun ke jalan untuk protes setiap hari di berbagai Myanmar, meskipun pembunuhan terus terjadi dan penangkapan tak kunjung henti.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mencatat sebanyak 780 orang terbunuh sejak kudeta berlangsung. Sementara itu warga yang ditahan lantaran menolak kudeta mencapai 3.826 orang.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK